A.Kohar Ibrahim :
Nol
Puisi Nizar
(Bloknota Puitika)
Nol
Puisi Nizar
(Bloknota Puitika)
JUDUL bloknota alias catatan mini ini, sepintas lintas bisa berarti bias, jika bukannya lugas melecehkan. Tapi secara hakikinya tidak. Umum memang sering menganggap chiffre atau angka Nol itu paling rendah bahkan sarat nada amat merendahkan jika dikenakan pada orang seseorang, apa pula diucapkan dengan nada amarah atau kebencian. Seperti ujar bilang orang Perancis : « Tu es nul ! » Yang bisa dimaknakan : Kau bodoh ! Otak kosong. Nol. Tak ada arti-nya.Tetapi, sesungguhnyalah Nol itu ber-arti, bahkan amat teramat penting arti-nya. Dari zaman dulu sampai zaman kini angka Nol masih menjadi bahan studi atau sering jadi bahan percakapan yang menggelitik. Bukankah kata angka itu sendiri, jika dilacak yang dalam bahasa Perancisnya adalah chiffre ber-arti-kan Zero alias Nol berasal dari kata Arab : sifr yang ber-arti : kosong ? Begitulah secara etimologis-nya Wikipedia.
Angka Nol yang diartikan Kosong itu sesungguhnyalah benar benar berarti, lebih lebih lagi jika disimak dari sudut pandangan dunia Timur. Kosong yang bukan berarti tidak ada apa-apa-nya melainkan ber-isi. Kosong Yang Berisi. Kosong bermakna Mula. Tanpa Nol atau tanpa Yang Kosong, bagaimana pelukis bergairah atas tantangan untuk mengkomposisi kreasi lukisannya? Tanpa Nol, bagaimana orang seorang atau pedagang atau ahli matematika, ah apa pula bankir secara praktis melakukan hitung perhitungannya?
Iyah, sesungguhnyalah angka Nol itu amat berarti. Hingga ada masanya penemuan angka tersebut menjadi kebanggaan Dunia Arab zaman kejayaan ilmu matematikanya, hingga ada penamaan “chiffres arab”. Padahal, sesungguhnyalah pula, chiffres atau angka-angka yang terkenal dan digunakan secara dominan itu asal muasalnya dari India!
Terus terang saja. Saya tergeltik kembali pada soal angka Nol ini ketika adalah salah satu perbincangan di milis Apresiasi Sastra, dalam mana Hudan Hidayat campur-tangan. Dari situ muncul undangan inspirasi untuk menyusun lanjutan cermin (cerita mini) berkat gugahan Gurindam-12 Raja Ali Haji. Tulisan saya itu yang ke-5, berjudul : « Kosong Nan Berisi Puisi Mulia » dipasang siar Multiply 11 Mai 2009. Sengaja saya siar kembali di Facebook untuk melengkapi Bloknota ini.
Yang membikin saya kembali tergelitik oleh perihal angka Nol iyalah belakangan ini justeru ada seorang penyair yang juga publisis sekaligus juragan bisnis telah memanfaatkan makna atau arti angka Nol. Dengan pandangan sekalian apresiasi yang positip bahkan bernada mengkompori kaum atau calon usahawan dalam suatu acara peresmian sekolah di bidang itu. Pokoknya : dalam ber-usaha janganlah takut memulai dari Nol. Nol tu penting. Dengan lain nada sarat asa : janganlah takut gagal. Jatuh-bangun itu soal lumrah dalam berkiprah.
Aku senyum mesem menerima berita ujar kata sang penyair yang bernama Rida K Liamsi itu. Jadi pemicu ku membuka-buka halaman buku penyair Riau lainnya. Dan, syubhanallah ! aku kembali terkesimak sebuah sajak justeru berjudul : Nol. Tertera dalam halaman Kumpulan Puisi « Tarian Orang Lagoi » kreasi Husnizar Hood itulah :
NOL
hanya sepasu anggrek berwarna ungu
hampir layu, dan halaman kosong
kaca jendela berwarna hitam
memantulkan wajah cintaku menggelepar
musim utara menghambuskan
memaksa aku bergegas
memburu hidup dalam sajak-sajak
pada gelombang, angin ribut dan riau
telah ke laut ke hutan ke bukit ke awang-awang
sampai kurenung mimpi muntahku
ke mana-mana segalanya runtuh
di buluh-buluh tinggi menggalah
bagai zikir tardji, gurauan sattah
pemberontakan idrus, tangisan syam
berdayanya ikram, lalu edi, hafney
kemudian yose
aku menangis terbahak-bahak
memandang burung balam
mematuk-matuk pasir
membabat rumput-rumput kering
mungkin sebentar lagi anggrek
bagai pedang dan api diparuhnya
menikam leher memanggang diri
dan computer itupun meledak
di pustaka otakku
membakar buku catatan harian,
hangus!, dan nol.
(adakah riau masih menyisakan kata-kata untuk risaunya bagiku)
Demikian seutuhnya sajak Nizar dari kupuisinya Tarian Orang Lagoi terbitan Yayasan Kata Pekanbaru 1999 dengan kata pengantar dari Hasan Junus. Sebuah hasil kreasi Nol yang amat berarti. Meski computer telah meledak di pustaka otak dan membakar buku catatan hangus…dan nol! Namun nol-nya nol yang kosong berisi isian layak kaji lagak lagu juang kehidupan manusiawi. Hangus pun kehangusan yang sarat asa dan hasrat untuk mula memulai kembali, bak burung feniks, seperti pribasa kata: patah tumbuh hilang berganti. Jatuh pun bangun lagi.*
31 Juli 2009.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|























Indonesia sebagai negara Hukum, maka ...
Inilah akibatnya kalau kita hanya se...
fikiran yg hebat mmbicarakan ide........
kami harap para penegak hukum konsist...