Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
 
 
 
Home Serba serbi Sastra Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun

Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun

E-mail Cetak PDF
Penerbitan Buku : Arsyad Indradi Melakoni Tradisi Ribuan Tahun


Esai:  A.Kohar Ibrahim


FACE Book. Medio Oktober 2009, Batam,  aku terima kiriman buku dari  Banjarbaru Kalsel. Kongkretnya 5 buku hasil aktivitas-kreativitas seniman penulis penyair Arsyad Indradi, kelahiran Barabai 31 Desember 1949 dan yang  mendapat julukan:  Penyair Gila.

“Gila memang,” kesanku begitu, dalam makna memaknai ke-luar-biasa-annya.  Aku amat terkesankan oleh fakta fenomenal. Bahwa dalam millennium ketiga ini, di Nusantara, ada seorang penulis yang sedemikian rupa idealismenya demi melestarikan bukti kepenulisan diri sendiri maupun orang lain. Demi membuktikan sumbangannya bagi kekayaan kesusastraan Indonesia dan Dunia.

Bukti pembuktian Arsyad Indradi dengan selain hasil tuliasan juga hasil pencetakannya berupa buku-buku. Hanya untuk menambah bukti kuat lagi akan kebenaran pepatah Perancis yang sering aku ulang bilang, bahwa ”la parole s’envole, l’ecrit reste”. Omongan mabur, tulisan tinggal.

Bukti pembuktian idealisme Arsyad Indradi yang melestari tradisi luhur kaum pembina peradaban manusiawiah sudah sejak beribu-ribu tahun lalu. Sejak zaman pahat-patrian-tulisan hieroglip, papirus dan lontar.

Bukti pembuktiannya yang kongkrit, istimewa sekali berwujud Sepuluh Buku  dalam waktu satu tahun dua bulan.

Bagaimana? Salah seorang penulis, Harie Insani Putra, melukiskan kesaksiannya betapa Sang Penyair Gila itu  beraktivitas-kreativitas di rumahnya. Kesaksian akan  ”pemandangan buku-buku yang telah tersusun,  alat pemotongan kertas, bungkusan buku siap kirim, dan lembar-lembar kertas yang belum selesai dilipat. Di rumah sekaligus tempatnya memproduksi buku, AI  seperti sedang menyiapkan masa tua yang berencana.” Seusai masa tugasnya sebagai pegawai negeri, ”kepada bukulah ia akan mengabdi.”

Menurut Harie, sebenarnyalah julukan ’gila’ bagi Arsyad, ”tidak saja mengarah karena telah menerbitkan sepuluh buku, tetapi juga karena semua penerbitan buku  yang sudah ada dibiayai dari isi dompetnya sendiri, termasuk antologi puisi nusantara yang dalam satu bukunya berjumlah 728 halaman.... Selama mengerjakan semua buku, tak sekali dua jari tangannya tersayat pisau cutter. Utamanya pada saat  mata mulai terasa berat karena kurang tidur. Arsyad akan merasa puas jika buku yang diterbitkannya murni hasil kerja tangannya sendiri. Maka tahap demi tahap, mulai dari melayout, menyusun halaman, mencetak, melipat kertas. Sampai menjilid dilakukannya sendiri” jelas Harie, seperti tertera pada halaman 17 buku ”Risalah Penyair Gila”.

Gila. Memang. ”Dunia kepenyairan punya banyak ’orang gila’. Salah satunya Arsyad Indradi. Salah satu kegilaannya penyair senior Banjarbaru Kalsel ini adalah rela menjual tanahnya untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. Bukan buku sembarangan,” jelas Ahmadun Yosi Herfanda (hlm 23).

Sesungguhnyalah kisah penerbitan naskah tulisan seperti yang dilakoni Arsyad Indradi ini merupakan kisah historis kaum pencinta sekaligus pengabdi kesusastraan dari zaman ke zaman. Kisah perjuangan hidup kaum seniman dan budayawan yang universal. Perjuangan mewujudkan hak azasi untuk berekspresi, untuk eksistensi sekaligus melestari tradisi baik yang senantiasa berkesinambungan. Kesinambungan dari zaman penulisan ala hieroglip, papirus sampai lontar hingga zaman Revolusi teknik canggih komunikasi-publikasi dewasa ini.

Dan dalam ragam cara dan nuansa perjuanagan yang bervariasi, dalam perjuangan melawan rintangan kekuasaan, bukankah secara hakiki seorang pujangga macam Pramoedya Ananta Toer pun melakoni upaya penerbitan hasil kreasinya sendiri? Pun di mancanegara, dalam periode yang relatip panjang dari dulu hinggaq sekarang, terbukti adanya penerbitan hasil karya tulis-menulis yang dilakoni dengan cara mandiri yang serupa. Seperti, antara lain, hasil terbitan 100 judul berupa majalah Kreasi, Arena dan Mimbar serta buku dan brosur lainnya. Semuanya diproduksi dalam jangka waktu 1989-1999. Dengan biaya pada pokoknya oleh pengelola atau para penulis sendiri.

Benar. Iya benarlah demikian adanya. Medio Oktober lalu saya langsung menerima kiriman 5 dari sekian banyak buku-buku Arsyad  Indradi. Yakni, masing-masing berjudul: Nyanyian Seribu Burung (Antologi Puisi, terbitan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, April 2006), Romansa Setangkai Bunga (Idem, Mei 2006), Narasi Musyafir Gila (Idem, Juni 2006), Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia (Idem, September 2006) dan Risalah Penyair Gila (Kumpulan Esai, idem, Agustus 2009).

Terima kasih yang tak terhingga, Arsyad! Hasil aktivitas-kreativitaslah yang menjadi ukuran utama orang seseorang, istimewa sekali seniman, budayawan, sastrawan atau penyair. Aku yakin ini. Dikaupun tak terkecualikan.***

Anggreksari, Batam Oktober 2009.

Catatan: Naskah disiar Facebook: Abdul Kohar Ibrahim. 
Komentar
Buat Baru Cari RSS
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s:!::?::idea::arrow:
 
Silahkan Masukkan Kode Anti spam.
 

Editorial

Kegagalan Paket RAHMAT: Satu Partai, Dua SK Dukungan Politik
23/02/2010 | Syahrul Salam
article thumbnail

Sumbawanews.com.- Tepat Senin (22/02), Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengumumkan hasil verifikasi terkait data pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati. Sekitar [ ... ]


Editorial Lainnya

Shout Box

Archives Pesan
14/03wirman84pak andi calon yang bupati yang terhormat.kami dari penduduk maluk resetment tidak puas dengan kontrak politik yang dilakukan li lapangan sepak bola maluk .kami mohon di koreksi kembali kontrak politik tersebut,,tidak ada satupun yang menjadi saksi penandatanganan kontrak tersebut,,masyarakat resetment..kami mohon bang andi..
14/03tode miratidak bisakah pemimpin kita bersikap adil dan bijaksana????,sebab bertambah pintarnya seorang pemimpin akan bertambah juga cara pemimpin untuk melakukan penyelewengan2 terhadap masyarakat.kasihan kami rakyat kecil yang hanya bisa meratap janji palsu seorang calon,jika sudah di atas......,hanya satu kata......goodby......
14/03Erna Pakilkurangnya ilmu pengetahuan di Indonesia dan meningkatnya KKN,kalau begini terus kapan Indonesia akan maju ??????
14/03GeminiJangan heran di indonesia terjadi banyak masalah,bencana,karna ulah tangan manusia yg penuh dgn kemunafikn dan kezaliman,hrs smua sadar dan tau diri sbgai hamba Allah.
14/03ernamapinmari kita berpegang tangan untuk meningkatkan semangat belajardan mengurangi volume para TKW luar negri.semoga pemimpin kabupaten sumbawa memperhatikan hal ini
13/03wirmanKSB akan AMAN Jika Paket AmAn Yang memimpin
13/03wirman maluksaya di maluk sudah berpuluh tahun dan yang saya lihat maluk tetap saja seperti dulu...kapn perubahan itu kan datang...
12/03LA[INDA BIDOSKepada Yth: Bapak Gubernur NTB TGH Zainul Majdi, M.A, Bapak Bupati/ Wali Kota Se Pulau Sumbawa, Pimpinan DPRD Se Pulau Sumbawa, dan Seluruh LSM, Ormas, Mahasiswa di Pulau Sumbawa.
09/03emitronInfo : Iklan Baris Via SMS, Iklan Baris Kompas Via sms hub. Emitron Cs. 021 8378 5208,
09/03mamadsemoga seluruh amal, ibadah
09/03irawnkyai habat
08/03holly madisonmari kita nonton porno!!!!!
07/03salsabilasaya bagian dari warga lenangguar yg menjadi tki krna tdk adanya lapangan kerja,mdhan pmimpin muda dpt perjuangkan dodo rinti nantinya,
07/03salsabilasaya mendukung cln pemimpin muda.
07/03Komunitas BABUJUInnalillahiwainnalillahiraziun, Komunitas BABUJU mengucapkan Turut Berduka cita yang mendalam atas Meninggalnya Walikota Bima, HM. Noer A. Latif (28 Okt 1951 - 7 Maret 2010). Semoga Keluarga, Sahabat, kerabat serta masyarakat Kota Bima diberikan ketabahan dan kesabaran... Amin Ya Rabb...
 

Mainkan MP3  Ringtone Antikorupsi IKRAR
Untuk Download Klik kanan MP3 lalu Save link as

Download Ringtone MP3 Visi Misi, Klik kanan lalu save link as