HOME UTAMA DAERAH | NASIONAL | INTERNASIONAL | EDITORIAL | OPINI | PENDIDIKAN | AGAMA | UNIK | TECHO | FOTO | SITUSKU CERITA RAKYAT | BUDAYA SEJARAH | WISATA | JOKE PUISI | SASTRA  | MOTIVASI | BEASISWA

Dompu, 1815

Tapi, seperti terlihat dalam transformasi sejarah Dompu, pralaya yang menghancurkan seringkali menjadi momen kelahiran di mana kehidupan dan konsensus sosial yang baru berhasil dibangun dengan penuh harapan.
Dompu, Kabupaten yang terletak di antara Sumbawa dan Bima, menarik untuk dicermati karena mengalami perkembangan sejarah yang unik. Sebagai kawasan yang memiliki riwayat sejarah yang panjang, Dompu mengalami keruntuhan sekaligus kelahiran yang transformatif justru karena pralaya yang menghancurkan.

Situs megalitikum Nangasia, yang terletak di Kecamatan Hu'u, sekira 35 km dari pusat kota Dompu, menjadi petilasan yang menandai betapa Dompu memiliki riwayat sejarah yang panjang. Di kawasan Nangasia itu ditemukan benda-benda arkeologis seperti gerabah, manik-manik, cobek, periuk, tempayan, tulang binatang dan kulit penyu. Situs Nangasia ini diperkirakan sebagai sebuah "necropolis" atau tempat permukiman penguburan yang berasal dari abad-abad pertama Masehi.

Jauh sebelum mengenal bentuk pemerintahan kerajaan yang hierarkis, masyarakat di kawasan Dompu hidup dalam tribalisme yang dipimpin oleh sejumlah kepala suku yang biasa disebut "Ncuhi".

Dari sekian Ncuhi, setidaknya terdapat empat Ncuhi yang paling dikenal: (1) Ncuhi Hu'u yang berkuasa Hu'u (sekarang kecamatan Hu'u), (2) Ncuhi Saneo yang berkuasa didaerah Saneo dan sekitarnya (sekarang Kecamatan Woja), (3) Ncuhi Nowa yang berkuasa di daerah Nowa dan sekitarnya serta (4) Ncuhi Tonda yang berkuasa diwilayah Tonda dan sekitarnya (sekarang Desa Riwo di Kecamatan Woja).

Ketika Kerajaan Majapahit sedang menikmati keemasannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, masyarakat yang tinggal di Dompu juga sudah mengenal sistem pemerintahan kerajaan. Majapahit sendiri pernah melakukan dua kali ekspedisi militer ke Dompu. Ekspedisi pertama pada 1344 berhasil digagalkan sementara ekpedisi kedua pada 1357 berhasil menaklukkan Dompu.

Pada pertengahan abad 16, sekitar tahun 1645, Dompu mengelami transisi penting menyusul ditetapkannya Islam sebagai agama resmi Kerajaan Dompu oleh Raja Dompu bernama La Bata Na'e. Sejak itu pula, raja-raja Dompu mulai menggunakan gelar Sultan. Penyebaran Islam di Dompu dilakukan oleh Syekh Nurdin dari jazirah Arab yang tiba di Dompu pada 1528.

Stabilitas di Dompu mulai terganggu pada abad 19 setelah muncul sejumlah pemberontakan yang memungkinkan pemerintah kolonial mulai campur tangan. Puncaknya terjadi pada 1809, Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan Gubernur Van Kraam untuk memperbaharui perjanjian yang lebih mengikat Dompu.

Enam tahun berselang, pada April 1815, Gunung Tambora meletus dengan hebat. Letusan Tambora mengundang perhatian besar karena mengacaukan iklim dunia. Saking banyaknya debu yang terlontar ke atmosfir hingga menyebabkan "pendinginan global", sampai-sampai tahun 1816 dikenal sebagai "tahun tanpa musim semi". Di Eropa Barat, sejak awal Juni 1815-hanya berselang 1,5 bulan meletusnya Gunung Tambora-terjadi apa yang disebut "hujan salah musim". Dan itu terjadi selama beberapa minggu.

Bagi peradaban di Pulau Sumbawa, letusan Gunung Tambora benar-benar menjadi pralaya. Tidak hanya menewaskan puluhan ribu orang, letusan itu juga menghancurkan dan menguburkan tiga kerajaan di Sumbawa yaitu Kerajaan Tambora, Pekat dan Sanggar.

Uniknya, Kerajaan Dompu mampu bertahan dan pusat Dompu pun dipindahkan oleh Sultan Abdul Rasul II. Tak hanya itu, kehancuran Kerajaan Tambora, Pekat dan Sanggar justru membuat wilayah Kerajaan Dompu menjadi makin luas.

Inilah yang menyebabkan transformasi sejarah Dompu sehingga melahirkan apa yang disebut sebagai Dompu Bou (Dompu Baru). Letusan Tambora pada April 1815, yang menjadi pralaya terbesar sepanjang sejarah Pulau Sumbawa, sekarang justru ditetapkan sebagai hari lahir Kabupaten Dompu.

Tapi pralaya yang menghancurkan seringkali menjadi momen kelahiran di mana kehidupan dan konsensus sosial yang baru sering berhasil dibangun dengan penuh harapan. Seperti kehidupan bumi yang lahir kembali setelah banjir besar di era Nabi Nuh atau Aceh yang sukses menganyam konsensus sosial dan politik yang baru usai pralaya tsunami yang menghancurkan.

Sumber: jurnas

Kategori: