Lady Diana

Hari itu, Senin 16 Agustus 1993, waktu menunjukkan pukul 11.42 Wita. Sebuah pesawat carteran pribadi, Turboprop B 350 PK NSI, bertuliskan Nugrasanta, milik pengusaha nasional Ponco Sutowo, mendarat mulus di Bandar Udara Brang Biji (Sultan Kaharuddin III) Sumbawa Besar.
    Begitu pesawat berhenti dengan sempurna di parking area, sebuah mobil Mercy warna gelap segera menjemputnya di tangga pesawat. Tanpa hingar-bingar, tanpa sirene yang meraung-raung, mobil itu bergerak tenang meninggalkan bandara. Belok kiri ke arah barat. Melalui jalan Garuda Sumbawa Besar, beriringan menuju Pelabuhan khusus Amanwana. Melintasi Tikungan Ace, Simpang Bingung, Saliper Ate, Terminal Sumer Payung, Labu Punti, hingga ke depan Laguna Biru.
    Didampingi dan diantar CEO Moyo Safari Abadi (MSA), Laksamana Madya TNI. (Purn) H. L. Manambai Abdulkadir, dan beberapa petinggi MSA, di pelabuhan kecil itu, telah menunggu sebuah kapal pesiar, Aman Cruise XI. Bersama tiga teman perempuannya serta beberapa bodyguard, yang seluruhnya berjumlah 11 orang, Princess of Wales, Lady Diana Spencer, meninggalkan lekuk teluk Pelabuhan Badas menuju Pulau Moyo, The Best Hotels and Luxury Resort in the World itu.
    Setelah berlayar sekitar, 1,5 jam, melewati Tanjung Menangis, ibu muda  yang sedang dibelit prahara rumah tangga dengan suaminya Pangeran Charles, pewaris tahta Kerajaan Persemakmuran Britania Raya, yang dinikahinya pada 29 Juli 1981 itu, menjejakkan kakinya di kawasan taman safari berburu dan taman laut Pulau Moyo.
    Lady Diana, yang juga disebut People’s Princess (Putri Rakyat), karena sangat terkenal dekat dengan aktifitas amal dan sosialnya itu, menghabiskan waktunya selama 3 hari 2 malam di pulau sepi hideaway resort terbaik Asia-Pacifik itu.
Selama di Pulau Moyo, Lady Di, beserta rombongannya, melakukan berbagai aktifitas, mulai dari berenang di laut, diving dan snorkeling menikmati pemandangan taman bawah laut, dengan aneka warna-warni ikan hias dan terumbu karang alaminya yang memukau. Hiking dan tracking di kawasan taman hutan tropis, diiringi kicauan aneka jenis burung langka yang saling bersahutan. Seakan menyambut dan mengucapkan selamat datang kepada ibunda dari dua pangeran muda “Harry dan William” ini.
 Menikmati ratusan spesies kelelawar dan kupu-kupu beraneka warna, yang keluar dari sarangnya di Gua Ai Manis. Memandangi gerombolan rusa yang turun minum, melintasi padang savana yang luas. Hingga mengunjungi air terjun berundak tiga, Mata Jitu, dengan Jeep terbuka, dan menikmati sunset menawan di ujung dermaga.
Moment di atas, terjadi persis empat tahun menjelang kematiannya, pada dinihari 31 Agustus 1997. Akibat insiden naas kejar-kejaran dengan beberapa paparazzi, yang menewaskannya bersama kekasihnya Dodi Al-Fayed. Setelah limusin Mercedes Benz S-280 warna hitam yang dikendarainya, membentur pilar pembatas jalan di underpass Pont de I’Alma Paris, sebuah terowongan jalan bebas hambatan di sisi sungai Seine, tak jauh dari menara Eiffel.
Kini, Queen of People’s Heart kelahiran Park House, Sandringham, England 1 Juli 1961 itu telah tiada. Namun legenda tentang dirinya, seakan tak pernah ada habisnya. Berbagai tempat yang pernah dikunjungi Diana, kini seakan menjadi tempat “ziarah” wajib, yang terlalu monumental untuk dilewati begitu saja oleh para pengagum dan orang-orang yang mencintainya.
Sebut saja tempat liburannya di Pantai Karibia di Laut Tengah, kawasan Saint Tropez di Prancis Selatan, meja dan ruangan tempat makan malam terakhirnya bersama Dodi Al-Fayed, di Hotel Ritz (sebuah hotel mewah milik ayah Dodi) di Vendome Paris, hingga ke titik  tempat kecelakaan yang menewaskannya di terowongan naas itu, semuanya menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan.
Demikian pula kediaman resmi Lady Di, di Kensington Palace, Gereja Westminster Abbey dan kapel keluarga kerajaan di St. James’s Place, tempat jenazah Lady Diana pernah disemayamkan terakhir kali. Hingga rute perjalanan iring-iringan pemakaman menuju Alltrop, menjadi tujuan wisata baru, yang banyak menarik perhatian para turis dari berbagai belahan dunia.
    Mereka, para pengagum Diana tersebut, seakan berlomba untuk turut menjejakkan kaki mereka, dimana Putri Wales tersebut pernah menjejakkan telapak kakinya. Bahkan tidak jarang, para “peziarah” tersebut, rela menginap dan membangun tenda di tempat-tempat tertentu, dimana Diana diyakini pernah hadir di tempat tersebut. Termasuk di pemakaman Lady Diana, di Alltrop.
    Untuk mengenangnya, keluarga Al-Fayed mengabadikannya dalam bentuk sebuah monumen di lantai satu ground floor di pusat perbelanjaan mewah hypermarket Harrod’s, milik miliarder Mohammed Al-Fayed (ayah Dodi) di pusat kota London.
Memorial Diana yang diberi nama “The England Roose” itu terbuat dari batu granit berwarna semburat pink, yang menggambarkan kelembutan, keanggunan dan cinta kasih. Kini tempat tersebut menjadi salah satu tujuan kunjungan favorit bagi para pencinta Diana.
Diana kini telah tiada, diiring lagu melankolik Candle in The Wind-nya Sir Elton John, dan jutaan karangan bunga serta kata belasungkawa yang mengalir tiada henti, disaksikan lebih dari 2,5 milyar pemirsa di seluruh dunia, Peraih Nobel Perdamaian 1997, karena perhatian dan aktifitasnya dalam kampanye internasional pelarangan ranjau darat di daerah konflik itu, menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia sangat muda, 36 tahun, setelah sempat dirawat intensif selama dua jam oleh tim medis di Rumah Sakit de La Pitie-Salpetriere Paris. akibat pendarahan hebat dalam kecelakaan  yang dialaminya.
Penyandang gelar kebangsawanan Royal Highness The Princess of Wales itu,  kini telah terbaring tenang di pemakaman keluarga Alltrop, sebuah pulau kecil di tengah danau di Utara London, membawa seluruh kenangan semasa hidupnya. Termasuk diantaranya tentang Pulau Moyo dan Tana Samawa.
Bahwa telapak kakinya yang lembut, pernah dijejakkan dan menapaki permukaan bumi Tana Samawa. Wajahnya yang anggun pernah dibasuh sejuknya air Tana Samawa. Tubuh sintalnya yang yang halus mulus pernah didekap hangat oleh jernihnya air laut Pulau Moyo dan disiram kesejukan serta kesegaran waterfall Mata Jitu.  Rambutnya yang pirang perak pernah beterbangan ditiup semilir angin Samawa.
Matanya yang indah pernah menatap alam Samawa, bahkan mungkin pernah kelilipan digoda debu Tana Samawa yang terkenal nakal beterbangan. Telinganya yang sempurna, setidaknya pernah mendengar beberapa kalimat bahasa daerah Samawa.
 Tidakkah kita bangga untuk kemudian berfikir bahwa daerah ini sesungguhnya teramat kaya potensi serta layak dikunjungi oleh tamu-tamu kelas dunia?. Sekaliber Sir Michael Philip “Mick Jagger” (musisi rocker dunia The Rolling Stones), Pangeran  Willem Alexander (pewaris tahta Kerajaan Belanda), Diana Frances Spencer “Lady Diana”, beberapa pangeran dan ratu dari berbagai negara, serta beberapa Senator AS dan selebriti dunia lainnya.  
Sadarkah kita semua, bahwa sesungguhnya Pulau Moyo dan Sumbawa, tercatat pada peringkat pertama, sebagai salah satu diantara enam destinasi pilihan liburan wisata hideaway paling eksotik dan paling romantis di Indonesia, bahkan di Asia-Pacifik?.
Seperti kawasan Desa Wisata Ubud di Bali, Taman Laut Bunaken di Manado. Gili Trawangan di Lombok Utara, Kampung Sempireun di Garut Jawa Barat, dan Belitung di Bangka-Belitung?.
Yang mengantarkan Amanwana Resort dan Pulau Moyo meraih Hideaway Resort of the Year South Pacifik/Asia, dan Lima Besar Private Paradise to refresh your Soul?.
Mampukah kita kelola potensi besar yang telah tersaji di depan mata ini bagi kemajuan Tana Samawa dan bagi kemaslahatan Tau Tana Samawa?. Wallahu’alam bissawab.-

Oleh : NURDIN RANGGABARANI

Kategori: