Kasiwasdakim Imigrasi Mataram Bantah Peras Aktor Hollywood di BIL Lombok NTB

Kasiwasdakim Imigrasi Mataram Batah Peras Aktor HollywoodJakarta, Sumbawanews.com. - Pernyataan Seorang aktor Hollywood mengaku sempat diperas agar bisa lolos imigrasi sebuah bandara di Indonesia yang seolah olah di Bandara Internasional Lombok (BIL) dibantah tegas oleh Kasiwasdakim Imigrasi Mataram Dorhan SH.

 

Pasalnya, Menurut Kasiwasdakim Imigrasi Kelas I Mataram Dorhan SH sampai saat ini dari hasil penyidikan sejak isu itu beredar tidak satupun aktor Hollywood mendarat di Bandara Internasioanal Lombok (BIL) apalagi yang atasnama Kitsch.


"Saya telah periksa semua anggota yang bertugas di Bandara, dan cek atas nama Kitsch tidak ada mendarat di BIL, yang jelas tidak ada satupun stap imigrasi Kelas I Mataram yang bertugas di Bandara BIL melakukan pemerasan kepada Touris, karena kita telah satu misi dengan pemerintah untuk memajukan program pemda Visit Lombok Sumbawa." jelasnya.


Lanjut Dorhan, Jika ada anggota Imigrasi Kelas I Mataram terbukti melakukan pemerasan terhadap siapapun pihaknya siap untuk mengantarkannnya keranah Hukum." Tutur Dorhan.


Memang Unik dengan adanya isu yang berkembang di berbagai media internasional yang awalnya diisukan aktor hollywood ini di peras di Fhilipina, kini malah isunya mencuat di NTB sehingga semua publik terkecoh.


Pemberitaan di berbagai media internasional dan bahkan di Diberitakan kantor berita Filipina, ABS-CBN News, Sabtu pekan lalu, aktor Taylor Kitsch mengungkapkan kisah ini dalam acara bincang-bincang "Late Show With David Letterman." Letterman mengatakan Kitsch tiba di bandara Filipina dari Jepang untuk syuting film Savages saat dicegah masuk oleh petugas Imigrasi.

 

Dalam wawancara di acara tersebut, Kitsch tidak membantah dia berada di Filipina, juga tidak membenarkan. Dia menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan petugas bandara melarangnya masuk ke negara tersebut karena paspornya kehabisan halaman untuk distempel. Lalu dia diminta kembali ke Jepang, padahal dia mengaku telah mengantongi visa kerja.

 

"Dia bilang 'halamannya tidak cukup, saya tidak bisa menstempelnya. Silakan kembali ke Jepang.' Saya bilang 'saya bekerja di sini, saya punya visa.' Dia tidak percaya saya aktor, jadi saya mendesak dia," kata Kitsch.  

 
Untuk membuktikan dia seorang aktor, Kitsch menunjukkan promo filmnya di iPhone miliknya. Bukannya memperhatikan promo tersebut, petugas imigrasi malah tertarik pada gadget milik Kitsch.


"Dia bilang 'Hei, bisa belikan aku satu yang seperti itu (iPhone)?', lalu saya bilang, 'Saya akan berikan ini jika saya boleh masuk,' namun dia tetap tidak percaya saya seorang aktor," jelas Kitsch.


Barulah setelah Kitsch menunjukkan promo filmnya yang lain berjudul "John Carter," petugas tersebut percaya dan memperbolehkan dia masuk ke Indonesia. "Dia bilang, 'saya suka promo film, kau boleh masuk'," kata Kitsch. Tidak dikatakan apakah akhirnya dia memberikan iPhone tersebut atau tidak.


Komentar ini menuai protes dari pemerintah Filipina. Mereka mengatakan bahwa Letterman salah menyebut nama negara. ABS-CBN menuliskan Kitsch tengah berada di Indonesia, karena film itu tidak digarap di Filipina, melainkan di Nusa Tenggara Barat Indonesia.

 

Komisi Imigrasi Filipina, Ruffy Biazon, juga tidak menemukan catatan kedatangan Kitsch di bandara saat dilakukan penyelidikan. "Kitsch salah menyebutkan nama negara. Tidak ada catatannya pada kami dan filmnya syuting di negara lain," kata Biazon.

 

Bantahan ini dibenarkan dalam situs Balifilm.com. Dalam salah artikel di situs ini, dikatakan bahwa syuting film Savages besutan sutradara Oliver Stone tersebut dilakukan di Pulau Moyo, NTB, selama enam hari. Film ini bercerita soal perdagangan obat bius yang dilakukan oleh kartel Meksiko.


Sehingga isu ini lah yang memperkuat bahwa kitsch diperas petugas Imigrasi Mataram, karena bandara internasional berada dibawah pengawasan Imigrasi kelas I Mataram.


Akan tetapi setelah sumbawanews.com mempertanyakan kepada Wamen DepHukum dan Ham Deny Indrayana, beliau membenarkan hal tersebut terjadi, dan saat ini petugas imigrasi tersebut sedang diperiksa, akan tetapi bukan petugas imigrasi Mataram melainkan petugas Imigrasi bandara Ngurah Rai Bali.

 


" Benar hal itu terjadi, dan saat ini oknum tersebut sedang kita periksa, melainkan bukan petugas Imigrasi Mataram akan tetapi Oknum pegawai Imigrasi yang bertugas bandara Ngurah Rai Bali dan kejadiannnya pada tanggal 1 Februari 2012 yang lalu."jelas Denny Indrayana, di Kantor Dephum dan Ham Jakarta, (7/3/2012).  (Erwin Siregar)

 

 

Kategori: