Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Home Berita Nasional Sumbawa! Lokasi Persembunyian Adolf Hitler

Sumbawa! Lokasi Persembunyian Adolf Hitler

E-mail Cetak PDF

Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.

Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!

Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor Charlie Chaplin, dengan kepala plontos. Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk mendukung dugaannya.

Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun 1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini ketika ditemui di kediamannya di Bandung.

Andai saja benar dr. Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889. “Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.

Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja.

Meskipun begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya di sebuah pulau kecil d Indonesia!

Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar.

Suatu saat, seorang keponakannya membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.

Pada halaman 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun, serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu.

“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.

Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”

Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.”

Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film propaganda Amerika yang menyebutkannya.

“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo.

Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah lanjut.

Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.

“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari Adolf!

Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!

Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.

Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.

Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.

Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.

Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).

Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.

Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.

“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.

Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.

Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.

Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.

Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.

Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!

Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.

Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian mereka,” katanya lagi.

Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan nyonya S.

Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.

Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.

Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!

Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat bersemayamnya dr. Poch.

Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada kemauan baik semua pihak...


Oleh : Alif Rafik Khan

http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/04/adolf-hitler-lari-dan-mati-di-indonesia.html


Sumber :
Harian “Pikiran Rakyat” edisi 24 Februari 1994
Majalah “Zaman” edisi No.15 tahun 1980
Majalah “Zaman” edisi 14 Mei tahun 1984
Majalah “Intisari” edisi bulan Oktober tahun 1983

Komentar
Buat Baru Cari RSS
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s:!::?::idea::arrow:
 
Silahkan Masukkan Kode Anti spam.
cahpamulang  - Menarik!     |61.247.13.xxx |23-05-2009 22:58:49
Kalau ada artikel lanjutannya makin menantang nih ceritanya.
trims
syaiful  - salam kenal     |125.165.109.xxx |24-05-2009 11:10:32
hello apa kabar sumbawa. Peknbaru datang berkunjung nih.
AERYE  - salam kenal juga   |125.163.228.xxx |18-07-2009 01:03:08
pintu sumbawa tetap trbuka ko'.......
arya   |114.123.17.xxx |18-07-2009 08:49:20
saya suka dengan artikel tersebut.jika ada referensi lain mohon dipaparkan
Zulkarnain   |118.97.8.xxx |15-10-2009 10:35:08
Tulisan tentang Hitler sangat menarik, dan akan sangat menarik lagi kalau disertai dengan poto-poto dan di teremahkan dalam bahasa inggris agar orang luar juga dapat membaca dan menganalisis dengan cermat. Artikel ini bila dikaji dari sisi metodologinya bisa di katakan mendekati ilmiah sehingga perlu didukung dengan data data pelengkap lainnya. trimakasih sumbawanews, hari ini kami mendapat literatur baru yang tak ternilai harganya sekaligus sebagai bahan kajian di dunia kampus.
Tris Budiyono  - Memang perlu penelitian mendalam   |125.163.233.xxx |12-11-2009 03:58:14
Saya bukanlah seorang peneliti, ahli sejarah maupun pemerhati masalah Nazi tetapi tulisan tulisan di atas dapat menjadi bahan kajian mendalam bagi suatu kebenaran. Hendaknya bangsa Jerman tidak malu mengakui bahwa era Hitler memang bagian dari sejarah mereka, sehingga baik atau buruk tetaplah harus ditegakkan kebenarannya. Hitler sendiri adalah orang besar dan pahlawan bagi bangsanya, soal metodenya salah itu lain cerita. Jadi memang dg adanya kenyataan bahwa jenazah Hitler tidak atau belum diketemukan membuat cerita Dr. Sosro layak untuk diperhatikan, khususnya oleh para peneliti sejarah. Saran saya janganlah berhenti dan menjadi jenuh hanya karena kurang mendapat perhatian orang atas temuan bapak. Ini adalah sesuatu yg sangat berharga, kepedulian manusia terhadap sejarah peradaban suatu bangsa. Mudah2 an bangsa Jerman sendiri ada yg serius menyambut baik informasi dari Dr. Sosro sebelum ybs menjadi kehilangan motivasi.
chue  - wah ......bener2 mengejutkan buat aku nih...   |219.83.74.xxx |05-01-2010 04:50:46
artikel ini cukup kaget aku baca...karena seorang Dr. yang bernama Po...yang di artikel ini di tulis degan Poch ini pernah di ceritakan oleh ortu saya sendiri bahwa beliau (ortu saya) memang pernah bertemu dengan beliau...kebetulan pada waktu itu rumah saya di sebelah rumah sakit namanya BKIA (Balai Kesehatan Ibu Anak), itu nama rumah sakit nya dulu mungkin kalo sekarang sekelas Puskesman di Sumbawa, Dr itu (Poch) itu juga praktik di situ...dan saya sendiri pada waktu (menurut cerita ibu saya) itu masih bayi..pernah menangani kesehatan saya pada masa bayi...
balya   |110.139.158.xxx |26-02-2010 17:57:37
ternyata dr.poch yg di sebut2 sebagai hitler tua itu benar2 di makamkan di TPU ngagel surabaya ...

ini dibuktikan dengan Harian Surya saat menginvestigasi pada 22 februari lalu . Surya benar-benar mendapati sebuah kuburan dengan nisan bertuliskan Dr GA Poch. Tidak ada yang istimewa dari kuburan di bagian tengah TPU itu.

Makamnya seperti makam kebanyakan, yakni nisan lancip seperti lazimnya nisan muslim lainnya di makam ini. Jaraknya hanya 10 meter dari perkampungan Ngagel. Tempatnya juga saling berhimpitan dengan makam lainnya, sehingga nyaris tidak ada jalan setapak menuju makam ini, kecuali terpaksa melangkahi nisan makam-makam lain.

Tidak ada yang tahu siapa dr GA Poch yang dimakamkan di tempat itu. Juga Arif , salah seorang warga yg tinggal di dasekitar pemakam itu. Padahal dia hafal siapa2 saja tokoh penting yg dimakamkan di TPU itu .

“Yang saya ingat sepuluh tahun lalu ada laki-laki dan perempuan yang ziarah. Itu terakhir,” kata Arif.

Dia juga mengatakan peziarah itu mirip orang eropa dengan rambut gelap dan berhidung mancung . Sampai sekarang tidak ada yang berziarah ke makam itu lagi .

Makam itu tampak tidak terawat. Ketika Surya datang, makam itu tertutup ilalang. Susandi Prastono, salah satu warga lainnya mengatakan, tidak ada yang peduli dengan makam itu karena identitasnya juga tidak tertulis tidak jelas. Memang makam itu tidak tertulis apa2 , tanggal lahir dan wafatnya tidak tertuliskan di batu nisannya .

Bahkan ada yang bilang bahwa makam ini , merupakan makam orang yang meninggal di tahun 70-an .

beneran gk yaa hitler meninggal dunia di Indonesia ???
Stefan Danerek  - Kerangka Hitler teryata kerangka perempuan!(DNA)     |92.39.38.xxx |19-04-2010 19:58:57
Fresh doubts over Hitler's death after tests on bullet hole skull reveal it belonged to a woman

Adolf Hitler may not have shot himself dead and perhaps did not even die in his bunker, it emerged yesterday.

A skull fragment believed for decades to be the Nazi leader’s has turned out to be that of a woman under 40 after DNA analysis.

Scientists and historians had long thought it to be conclusive proof that Hitler shot himself in the head after taking a cyanide pill on 30 April 1945 rather than face the ignominy of capture.
Revealed: The skull with a bullet hole, kept in a Russian archive, is a woman's

The piece of skull - complete with bullet hole - had been taken from outside the Fuhrer’s bunker by the Russian Army and preserved by Soviet intelligence.

Now the story of Hitler’s death will have to rewritten as a mystery - and conspiracy theorists are likely to latch on to the possibility that he may not have died in the bunker at all.


The traditional story is that Hitler committed suicide with Eva Braun as the Russians bombarded Berlin.

Although some historians doubted he shot himself and suggested it was Nazi propaganda to make him a hero, the hole in the skull fragment seemed to settle the argument when it was put on display in Moscow in 2000.

But DNA analysis has now been performed on the bone by American researchers.

Adolf Hitler

Where is he? The skull the Soviets found in 1946 is not Adolf Hitler's, tests show

'We know the skull corresponds to a woman between the ages of 20 and 40,' said University of Connecticut archeologist Nick Bellantoni.

'The bone seemed very thin; male bone tends to be more robust. And the sutures where the skull plates come together seemed to correspond to someone under 40.' Hitler was 56 in April 1945.

Mr Bellantoni flew to Moscow to take DNA swabs at the State Archive and was also shown the bloodstained remains of the bunker sofa on which Hitler and Braun were believed to have killed themselves.

'I had the reference photos the Soviets took of the sofa in 1945 and I was seeing the exact same stains on the fragments of wood and fabric in front of me, so I knew I was working with the real thing,' he said.

His astonishing results have been broadcast in the U.S. in a History Channel documentary titled Hitler's Escape.
Adolf Hitler and his mistress Eva Braun

Is it hers? Eva Braun died aged 33 and the skull was from a woman under 40

According to witnesses, the bodies of Hitler and Braun were wrapped in blankets and carried to the garden just outside the bunker, placed in a bomb crater, doused with petrol and set ablaze.

In May 1945 a Russian forensics team dug up what was presumed to be the dictator’s body. Part of the skull was missing, apparently the result of the suicide shot. The remaining piece of jaw matched his dental records, according to his captured dental assistants. And there was only one testicle.

A year later the missing skull fragment was found on the orders of Stalin, who remained suspicious about Hitler’s fate.

Just how and when he died is now shrouded in mystery. Mr Bellantoni said it was unlikely the bone was Braun’s, who was 33.

'There is no report of Eva Braun having shot herself or having been shot afterwards,' he said. 'Many people died near the bunker.'
The bunker: Where Hitler and Braun's bodies were said to

Unknown to the world, the corpse then believed to be Hitler's was interred in Magdeburg, East Germany.

There it remained long after Stalin’s death in 1953.

Finally, in 1970, the KGB dug up the corpse, cremated it and secretly scattered the ashes in a river.

Only the jawbone (which remains away from public view), the skull fragment and the bloodstained sofa segments were preserved in the deep archives of Soviet intelligence.

Mr Bellantoni studied the remains after flying to Moscow to inspect the gruesome Hitler trophies at the State Archive.

He was allowed only one hour with the Hitler trove, during which time he applied cotton swabs and took DNA samples.

The samples were then flown back to Connecticut.

At the university’s centre for applied genetics, Linda Strausbaugh closed her lab for three days to work exclusively on the Hitler project

She said: ‘We used the same routines and controls that would have been used in a crime lab.’

To her surprise, a small amount of viable DNA was extracted.

She then replicated this through a process known as molecular copying to provide enough material for analysis.

‘We were very lucky to get a reading, despite the limited amount of genetic information,’ she said.

Read more: http://www.dailymail.co.uk/news/worldnews/article-1216455/Hitlers-skull-really-womans-Fresh-doubts-death-tests-bullet-hole.html#ixzz0lZ9TrTP6
choan  - -     |125.162.45.xxx |20-06-2010 19:45:55
jika belum mampu, jangan kita ambil permata dari mulut singa, lebih baik kita andalkan pawangnya, untuk mengambil permata itu
Terakhir Diupdate ( Jumat, 04 Desember 2009 06:41 )  

Editorial

Siapa Yang Bertanggung Jawab Terhadap Illegal Mining Labaong...?
13/08/2010 | Indra Jaya
article thumbnail

Dari hari kehari bencana longsor dipusat ileegal mining Olat Labaong terus terjadi, sejalan dengan peristiwa ini puluhan korban meninggal dan luka-luka tidak dapat dihindri, tetapi aneh bin ajaib apar [ ... ]


Editorial Lainnya

Iklan Baris

Shout Box

Archives Pesan
02/09to the rheestelah tu baca isi Risalah sidang Perdana ANNUR VS KPU, yam de ya mole goro NURDIN
02/09utanbersaudarasemoga an nur cepat di lantik
02/09ikinBerhentilah menggonggong disini, karena smuanya tak berarti.
02/09buta melikeee nanta kau pe annur, maling teriak maling, mu buya bukti baju koko, no to diri lok ka beang jenset ko tau jompong ke, ma bau pilih ling tau pang jompong ana. ngaca gama balong,, bau man mo tu tomas...
02/09ocananluk tau gedo,kakenang pipis 20 rb,luk kanomda akalmupe ijar kau tukang ngelo..nantakau JM
01/09InsanSegala peristiwa
01/09InsanSegala peristiwa
01/09BillTidak perlu saling menghujat, itu bukan sifatnya orang Samawa, biarkan proses hukum berjalan dan siapun yang menang harus bisa diterima dengan lapang dada..
01/09EA UTAN Geeee nene tau annur luk ka no nene bau terima kekalahan ampa,,,tau nda ila na bae si tau nanluk na......lamen kam tu kalah man mo tu tomas...pates mo jampang swai anak nene e....lamen tu salenge tau boat nene...smata ka tau nda ila na bae si...
01/09AlJM gedo............................
01/09PUKIkawa ke ya pimpin neng de nyang2, slma 5 tahun nda perubahan2, smata mata taeng otak tu..........
31/08rerrr
31/08rerrteeeeertry
31/08xxxxxxxxxxxxxxxx
31/08mosengnengka saling hujat, dengan kalimat-kalimat ade enda tegas- tegas nan, aji no tu bedosa rua hujat tau....coba nene gita tau sidang ana kadu Nurdin ke 5 anggota KPU ana Mesra pang Jakarta ana nene pang samawa ta laga seling salenge diri nene we...sanak balong we...

Interaktif

Kamus
Cek Email
Pleno KPU Senin (23/8) menempatkan JM-Arsy Unggul sebanyak 111,961 (50.56%) dan ANNUR sebanyak 109,465 (49.44%), selisih suara antara JM-Arsy Vs ANNUR = 2,486. Total suara sah sebanyak 221,436. Selengkapnya...