Ridwan Saidi: Pasangan Jokowi - Ahok Ibarat KPK, Makin Dihantam Semakin Dibela Masyarakat

Ridwan SaidiJakarta, Sumbawanews.com. - Budayawan yang juga tokoh Betawi Ridwan Saidi mengatakan tindakan yang dilakukan Rhoma Irama itu sangat bertentangan dengan apa yang biasa di nyanyikannya, bahkan airmata yang dikeluarkannya di Panwaslu itu salah satu contoh bahwa dia telah membatalkan Puasanya, itu telah menyalahi aturan agama islam dalam melaksanakan Ibadah Puasa.

“Saya melihat seorang Rhoma Irama yang konon katanya Ulama mengerti Hukum agama, tetapi kenapa dia menangis di saat melaksanakan ibadah Puasa, serta terkait pernyataannnya itu saat mengatakan seseorang itu kafir, “siapa yang kafir calon peminpin,” jelas Ridwan Saidi di sela-sela acara Seminar 100 Tahun Melanchton Siregar di Gedung DPD RI.

Ridwan juga mengatakan, sebelumnya, pernah Gubernur DKI beragama Kristiani tetapi tidak menjadi masalah karena DKI ini adalah suatu negara NKRI jadi boleh boleh saja dia dari suku manapun dan Ras apapun serta agama manapun jadi Peminpin.

Akan tetapi Ingat, yang bakal jadi peminpin itu adalah Jokowi bukan Ahok.” jelasnya.

Bahkan Ridwan Saidi juga mengatakan apapun yang dilakukan pasangan Fauzi Bowo saat ini sulit untuk mengalahkan pasangan Jokowi – Ahok, Pasalnya Jokowi Ahok itu sudah menjadi tren masyarakat, beliau Jokowi – Ahok sudah ibarat KPK, apapun yang dilakukannnya pasti masyarakat mendukung.

Jadi jika pasangan ini semakin di intimidasi dengan isu sara, suku dan sebagainya, ini akan memperkuat posisi pasangan Jokowi.

Kalau kita kembalikan ke sejarah yang merancang pembangunan Mesjid istiqlal itu adalah Silaban orang kristen, karena kita adalah NKRI. 

Bahkan menurut Ridwan seharusnya Pilkada ini jadikanlah contoh bagi Nusantara sebagai Pilkada yang aman bersih dan jujur, tidak membawa bawa isu sara, suku dan golongan, "seharusnya juga kita bisa berkaca kepada Gubernur DKI Jakarta tahun 1964-1965, Hendrik Hermanus Joel Ngantung, menjadi buktinya.”Ucap Ridwan.

Presiden Soekarno mengangkat Henk Ngantung menjadi Gubernur DKI Jakarta karena ingin Jakarta menjadi kota yang berbudaya. Henk bukanlah seorang birokrat atau akademisi, dia adalah seorang seniman dan budayawan yang populer saat itu. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, Henk Ngantung sudah berpameran lukisan di tempat-tempat bergengsi. Termasuk Hotel Des Indes yang merupakan tempat elite pada masanya.

Henk lahir tahun 1921. Pendidikan formalnya tidak tinggi, karena dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar berkesenian dan melukis secara otodidak. Hal itu dibayarnya dengan prestasi di bidang sketsa dan seni lukis.

Tahun 1960, Soekarno mengangkat Henk menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta. Tahun 1964, Henk diangkat menjadi gubernur, Prestasi Henk yang saat ini masih bisa dilihat adalah membuat sketsa patung yang kini berdiri tegak di Bundaran Hotel Indonesia. Henk juga mengabadikan berbagai peristiwa penting di negeri ini lewat sketsanya.

Dalam menjagokan calon Gubernur DKI Jokowi memenangkan putaran kedua pemilukada DKI yang akan dimulai masa kampanyenya pada September nanti. "Saya Jokowi lah. Alasannya Jokowi itu membawa pembaruan sebagai orang baru," ujar Ridwan Saidi. (Erwin Siregar)

 

 

Kategori: