Pengalihan Subsidi BBM Kepada Raskin Harus Beras Lokal

Raskin Harus Beras Lokal Jakarta, Sumbawanews.com. - Antisipasi perekonomian masyarakat dengan kenaikan harga BBM pemerintah akan memberikan Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) banyak dibicarakan para pakar politikus dan ilmuwan, sehingga opsi yang ditawarkan pemerintah itu dinilai kurang tepat.


Salah satu opsi program pemerintah untuk antisipasi dampak kenaikan BBM yaitu dengan melakukan penambahan jumlah penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) kepada hampir 18,5 juta rumah tangga sasaran (RTS). Jika program ini jadi dilakukan oleh Pemerintah maka Badan Urusan Logistik (Bulog) harus mengalokasikan seluruh anggaran pengalihan BBM untuk menyerap beras petani lokal.

 

Dalam rilisnya, anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar mengingatkan,"Raskin yang diberikan harus menggunakan beras lokal seluruhnya, Bulog tidak boleh impor untuk memenuhi raskin. Karena berbagai macam insentif telah banyak diberikan kepada bulog seperti HPP yang telah dinaikan dan pengalihan subsidi BBM pun sudah di anggarkan untuk raskin."


Pemerintah berencana menyaluran raskin pada 2012, awalnya jumlahnya sama dengan tahun lalu yakni 3,41 juta ton. Beras raskin sebanyak itu diperuntukkan bagi 17,49 juta RTS namun karena subsidi BBM kini ditambah untuk 18,5 juta RTS selama 14 bulan dari biasanya 12 atau 13 bulan saja dengan volume 15 kg per bulan per RTS dengan harga tebus Rp 1.600 per kilogram (kg).

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indonesia telah mengimpor beras pada Januari 2012 dari Vietnam mencapai 154,527 juta dolar AS atau setara 266,3 ribu ton. Kemudian dari Thailand per Januari 2012 sebesar 35,198 juta dolar AS atau setara 59 ribu ton. Terakhir dari beras India sebesar 9,197 juta dolar AS atau setara 19,37 ribu ton, di antaranya di tengah panen raya musim rendeng ini, rencananya akan datang 14.500 ton beras asal India ke Lampung melalui Pelabuhan Panjang. Sebelumnya, telah masuk 15.000 ton beras impor ini.

 

Rofi menegaskan,"Jika kenaikan BBM tetap dilakukan per 1 April 2012 maka sesungguhnya bertepatan dengan masa panen raya, maka idealnya Bulog dapat dengan mudah menyerap beras dari petani lokal, terlebih jika ditambah anggaran alokasi subsidi BBM harusnya lebih optimal. Sehingga program raskin seluruhnya menggunakan beras petani lokal dapat tercapai," ujar Rofi.

 

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa panen raya jatuh pada bulan Februari-April dan tahun ini diproyeksikan dapat mencapai target produksi. Proyeksi panen beras tiga bulan sebesar 60 persen dari jumlah target produksi tahun 2012 sebesar 72,03 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 40,5 juta ton beras.


Rofi menambahkan jika Bulog dapat menyerap beras dari petani lokal, maka secara tidak langsung telah membantu para petani meningkatkan taraf hidupnya dan tentu akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan menerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Petani berpotensi menerima BLSM karena merupakan struktur terbesar masyarakat miskin yang mencapai 70 persen. Selain itu Bulog juga harus memastikan bahwa raskin yang diberikan kepada masyarakat berkualitas premium dan merata distribusinya.

 

"Pemerintah harus memastikan bahwa Bulog serius menata tata lokasi dan tata guna raskin pengalihan alokasi BBM ini. Bulog harus menyediakan raskin yang bagus untuk masyarakat," tegas Rofi.  


Pemerintah melakukan langkah mengantisipasi dampak kenaikan BBM dengan melakukan serangkaian program bersifat kompensasi yang terdiri dari empat macam, yakni bantuan langsung Rp 150.000, penambahan subsidi bagi siswa miskin, penambahan jumlah penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin), dan subsidi bagi pengelola angkutan umum. (Erwin S)

Kategori: