HOME UTAMA DAERAH | NASIONAL | INTERNASIONAL | EDITORIAL | OPINI | PENDIDIKAN | AGAMA | UNIK | TECHO | FOTO | SITUSKU CERITA RAKYAT | BUDAYA SEJARAH | WISATA | JOKE PUISI | SASTRA  | MOTIVASI | BEASISWA

Pemerintah Serahkan 8 Blok Gas Metana Batubara

Pemerintah Serahkan 8 Blok Gas MetanaJakarta, Sumbawanews.com. – Guna mencari solusi peningkatan percepatan pengembangan dan pemanfaatan gas mentana batubara (coalbed methane). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyerahkan pengelolaan 8 blok gas metana batubara (coal bed methane/CBM) kepada sejumlah perusahaan tambang.

Penyerahaan dilakukan usai ditandatanginya pengelolaan CBM tersebut bersamaan dengan acara Conference & Exhbition Indo CBM 2012 di Jakarta, Rabu (18/4/2012).

 

Penandatangan tersebut disaksikan Menteri ESDM Jero Wacik dan juga dihadiri Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) R. Priyono.

 

 "Ada 8 blok gas metana batubara yang ditandatangani pada hari ini, mudah-mudahan bisa nambah lagi," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo.

Dari delapan blok CBM tersebut, empat blok di antaranya melalui lelang penawaran langsung 2011, yaitu GMB Bangkanai I (PT Bangkanai CBM Energi), GMB Bangkanai II (PT Borneo Metana Energi), GMB Kuala Kapuas II (PT Bina Mandiri Energi), dan GMB West Sanga Sanga I (PT Sanga Sanga Energi Prima).

Sementara itu untuk penawaran langsung tahun 2011 pada tumpang tindih eksisting migas dan KP batubara (Permen No. 33/2006) ada 4 GMB, yaitu GMB Air Komaring (Konsorsium Baturaja Energi-PT Anugrah Persada Energi), GMB Benakat I (Konsorsium PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatera 3 (PHE Metra dan PT Prima Gas Sejahtera), GMB Benakat II (Konsorsium PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatera 6 (PHE Metra 6) dan PT Petrobara Sentosa), dan GMB Benakat III ((Konsorsium PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatera 7 (PHE Metra 7) dan PT Unigas Geosinklinal Makmur.

Menurut Evita, ke 8 ekplorasi gas CBM tersebut diperkirakan akan berproduksi di tahun 2015. "CBM dengan gas konvensional beda, kalau gas konvensional harus eksplorasi dulu selesai development baru produksi. Sementara CBM masih eksplorasi dan tahap dewatering," ujar dia.

 

Menanggapi kegiatan tersebut Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia (IATMI) mendukung program pemerintah tersebut.

 

“Kami dari IATMI sangat mendukung Pemerintah Indonesia dalam membuat kebijakan atau menyempurnakan kebijakan yang ada untuk mendukung percepatan pengembangan sumberdaya gas CBM. Dalam hal ini kami yakin pemerintah akan memberikan komitmen yang tinggi didalam pelaksanaannya. Gas dari CBM ini sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gas nasional dan untuk memenuhi kebutuhan gas nasional dan untuk memenuhi komitment eskpor. Disamping itu, dengan bertambahnya gas dari CBM maka akan mengurangi subsidi BBM saat ini.” Ujar Salis Aprilian disela sela acara tersebut. (Erwin Siregar)    

 

Kategori: