“Saya puas, karena saya tahu saya bisa berjalan dengan kepala tegak dan tidak menghamba pada satu manusia (penguasa) pun. Saya tidak sendiri di jalan ini. Banyak wartawan yang berjalan seiring bersama saya:
sebagian besar dari mereka disiksa, meninggal, dilenyapkan, dipenjarakan tanpa proses peradilan, atau di buang ke pengasingan”.
(Editorial The Sunday Leader - Sri Lanka, 11 Januari 2009)
Unbowed and Unafraid, “Tidak Tunduk dan Tidak Takut”, demikian motto yang tertulis di bawah nama The Sunday Leader. Sebuah koran independen yang terbit di Sri Lanka. Kutipan tulisan di atas, adalah editorial yang ditulis Lasantha Wikramatunga, Pemimpin Redaksi The Sunday Leader.
Editorial garang tersebut diberi judul, “And Then They Came for Me”, yang terbit pada 11 Januari 2009. Tiga hari menjelang Lasantha dibunuh, oleh berondongan peluru para sniper misterius di dekat rumahnya, di Kolombo Selatan.
Editorial itu pun bak sebuah obituari diri. Mempertegas independensinya serta melengkapi rekam jejak keberanian sang Pemimpin Redaksi beserta The Sunday Leader itu, Tidak Takut dan Tidak Tunduk.
Karena sikap indenpendennya itulah, The Sunday Leader kerap kali harus berhadapan dan berbenturan dengan penguasa yang korup dan otoriter di negerinya. Tidak saja dipersulit, ditekan, diancam dan diteror, tapi lebih dari itu, The Sunday Leader juga berkali-kali menerima resiko pembredelan.
The Sunday Leader bukanlah koran “oposisi” (yang hanya kritis bahkan terkadang sinis dan garang pada penguasa saja), ia adalah koran independen, yang menulis tentang apa saja, sepanjang layak berita, benar, valid dan akurat, serta memiliki manfaat serta nilai edukasi dalam mengawal dan mengadvokasi kebenaran, keadilan, hukum, hak sipil dan demokrasi.
Keteguhan sikap, kegigihan dan konsistensi yang tinggi dalam menyuarakan dan membela kebenaran dan keadilan itulah, yang dibayar sangat mahal oleh Lasantha dan The Sunday Leader. Lasantha tewas diterjang peluru dari pusat birahi kekuasaan yang panik dan frustrasi menghadapinya.
“Bila akhirnya saya terbunuh, pastilah rezim (pemerintah) ini yang membunuh saya”, demikian Lasantha pernah menulis, tentang ancaman dan teror yang pernah ditujukan kepadanya.
Keteguhan dan kegigihan Lasantha itulah, yang pada peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia, 3 Mei 2009 lalu, oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO), yang berkedudukan di Paris, menganugerahkan World Press Freedom Prize ke-13 kepada Lasantha.
Sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang atau organisasi non-pemerintah yang berdedikasi serta berjuang untuk menegakkan kebebasan pers serta kebebasan berpendapat dan berekspresi, sejak tahun 1997.
Lasantha, tentu saja tak bisa hadir menerima penganugerahan itu. Yang diserahkan di Doha, Qatar. Istrinya yang juga wartawan The Sunday Leader, Sonali Samarasinghe, juga tak datang karena mendapat tekanan dan teror yang mengancam keselamatan jiwanya.
Namun dari jauh, rekan-rekannya di The Sunday Leader dan wartawan di Sri Lanka, serta puluhan ribu wartawan yang independen lainnya, dari berbagai belahan dunia, menyatakan tekad untuk mempertahankan semangat dan kegigihan Lasantha dalam menulis berita yang menyuarakan kebenaran dan keadilan tersebut.
Kasus “penghilangan dan pembungkaman paksa” sebagaimana yang dialami Lasantha, tidak saja terjadi di Sri Lanka. Menurut laporan Robert Menard, Sekretaris Jenderal “Reporters Sans Frontieres” (Reporter Lintas Batas), sebuah organisasi jurnalis independen yang bermarkas di Paris, yang dirilis berbagai media, menyebutkan bahwa setiap satu minggu terdapat satu wartawan yang meninggal dunia yang dilatarbelakangi oleh akibat aktifitas profesinya.
Di Indonesia, beberapa kasus serupa juga sering menimpa wartawan kita. Sebut saja misalnya, yang dialami oleh Muhammad Fuad Syaifuddin alias Udin, wartawan Harian Umum Bernas Yogyakarta itu, meninggal dunia 16 Agustus 1996 lalu, akibat dianiaya oleh orang tak dikenal di depan rumahnya, di Dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Km. 13 Bantul, Yogyakarta.
Kepala Udin dipukuli bertubi-tubi dengan batang besi hingga koma, kemudian meninggal dunia. Kasus ini, menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, diduga kuat melibatkan Bupati Bantul, Kolonel (Art). Sri Roso Sudarmo, karena Udin kerap menulis berita investigasi tentang berbagai penyimpangan yang terjadi di kabupaten tersebut.
Atau kasus hilangnya Elyudin Telaumbanua, menurut catatan Forum Wartawan Dumai (FWD Club), wartawan Harian Umum Berita Sore Medan itu, hilang saat melaksanakan tugas jurnalistik ke Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Elyudin tewas meregang nyawa, setelah dianiaya secara sadis oleh sekelompok orang yang didalangi oleh Ketua KNPI yang juga Calon Bupati Nias Selatan, Drs. Nasman Manao. Mayatnya sempat ditemukan warga mengapung di pantai Ganesi Teluk Dalam pada 24 Agustus 2005, namun kemudian hilang dan tak pernah ditemukan lagi hingga saat ini.
Demikian pula kasus meninggalnya Herliyanto, wartawan freelance beberapa media di Jawa Timur (Harian Radar Surabaya, Tabloid Delta Sidoarjo dan Tabloid Visual), yang ditemukan tewas dengan usus terburai di kawasan hutan jati KRPH Kleneng, Desa Tarokan, Kec. Banyuanyar, Probolinggo, pada 29 April 2006. Herliyanto dibantai oleh sekelompok orang yang diotaki oleh Abdul Basyir, Ketua Lembaga Ketahanan Desa Rejing, Kecamatan Tiris, Probolinggo, hanya karena memberitakan rusaknya sebuah jembatan yang baru dibangun di desa tersebut. Dimana sang Ketua LKD Abdul Basyir menjadi pimpro sekaligus kontraktor dari proyek tersebut.
Dan terakhir, yang baru saja diungkap oleh Polda Bali, sebagaimana ramai diberitakan berbagai media saat ini, meninggalnya Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa, wartawan Harian Umum Radar Bali (Jawa Pos Group), yang tewas dibantai kelompok Nyoman Susrama (adik Bupati Bangli, I Nengah Arnawa), yang mayatnya dibuang ke laut dan ditemukan mengapung di sekitar perairan Padangbai Bali pada 16 Februari 2009 lalu, seakan melengkapi kasus-kasus serupa yang juga terjadi di negeri ini. Sederetan wartawan yang menjadi korban brutal pembunuhan dan penghilangan paksa yang berlatar belakang profesi.
Menjadi wartawan, adalah sebuah pilihan totalitas. Bukan pekerjaan sampingan yang sambil lalu. Jurnalis adalah profesi luhur dan terhormat, karena dari kerja keras dan dedikasinya, mata pembaca, pemirsa dan pendengar terbuka lebar, hati tersentuh dan bathin tergerak. Tak salah bila “media” diibaratkan sebagai “katahati dan matahati” dunia.
Jurnalis beserta media yang baik, tidak sekedar menyajikan fakta. Tapi lebih dari itu, pers juga mengusung semangat idealisme dan nilai-nilai moral yang baik.
Dengan kata lain, menjadi wartawan bukanlah sekedar sebagai “tukang” pembuat berita, dan media tidak sekedar menjual rangkaian tulisan kata dan kalimat. Tapi lebih dari itu, pers harus mampu memberikan advokasi sekaligus nilai edukasi bagi khalayak pembaca dan pemirsanya.
Sebagaimana diungkapkan Lasantha, dalam catatan editorialnya di The Sunday Leader, Kami tidak tunduk dan tidak takut. Kami bangga berjalan dengan kepala tegak. Karena membela hak orang lain, adalah sama dengan berdedikasi membela hak diri sendiri. Serta menyelamatkan generasi hari ini adalah bagian dari keteguhan komitmen untuk membela masa depan generasi bangsa. “Tunduk tertindas atau bangkit melawan. Sebab mundur berarti pengkhianatan”.Selamat Berjuang!.=
)* Nurdin Ranggabarani, SH. MH.
Mantan Wartawan Majalah Mingguan SINAR Jakarta
Wakil Ketua DPRD Sumbawa.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

















Siapapun yang kemudian akan memimpin ...
Kami dari pemuda maluk akan memperjua...
Kami dari pemuda maluk akan memperjua...
Dilimetasi memang, tapi insya Allah A...