Dalam hari-hari mendatang, Munir sudah ditantang dengan bentangan tugas yang mengharuskannya meningkatkan koordinasi dengan cakupan wilayah kerjanya. Apalagi, dia tak meniti karier di Bima. Harus dikatakan, menunjuk pejabat selevel Asisten tanpa sebelumnya mengarungi medan pengabdian di daerah setempat atau “diimpor”, memerlukan pertimbangan matang.
Untuk posisi Sekda Kabupaten Bima, hingga kini belum juga ditetapkan. Proses pengisian memang sedang berlangsung, namun belum menemui titik simpul. Dugaan ada kalkulasi politik tertentu menjelang Pemilu Bupati dan Wakil Bupati pada 2010 mendatang, tak terelakkan. Wajar, karena kondisinya terbuka untuk munculnya analisis dan isu.
Kita harapkan, ke depan, kekosongan jabatan strategis segera diisi dengan figur yang memiliki kemampuan lebih. Jabatan selevel Asisten dan Sekda, tak boleh lowong terlalu lama, karena dinamika birokrasi dan sosial-kemasyarakatan membutuhkan koordinasi secepatnya. Kepala daerah membutuhkan skuad pendukung yang solid dan lengkap untuk memaksimalkan pelaksanaan tugas. Karena dalam sebuah sistem kerja, kekosongan itu pasti ada pengaruhnya dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Pasalnya, tugas yang seharusnya oleh pejabat definitif dikendalikan sementara oleh pejabat lain dengan merangkap.
Harus diakui, tetap ada pertimbangan politis dari pengangkatan itu. Wong yang mengangkatnya pejabat politis. Tetapi, harus dihindari durasi waktu yang terlalu lama karena bisa memicu beragam spekulasi. Jabatan Sekda sebaiknya diisi secepatnya. Lebih cepat, lebih baik! (*)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
















pilkada merupakan suatu yg riskan t...
dalam menang kalah dalam politik pil...
Dasar Rumah Sakit Goblok
Semoga ALLAH Memberikan HIDAYAHNYA ke...