Pandangan Kritis Pertarungan PILKADA KSB
(Spekulasi Politik dan Manuver Main Mata)
(Spekulasi Politik dan Manuver Main Mata)
Pilkada Sumbawa Barat 26 April 2010 diprediksi akan melahirkan spekulasi politik yang sangat signifikan, spekulasi politik ini mulai terlihat dari dukungan partai politik kepada masing masing pasangan calon. Dalam analisa penulis akan tergambarkan secara kualitatif dan kwantitatif serta analisa kritis tentang spekulasi politik tersebut.
Pasangan Zulkifli Muhadli - Mala Rahman (pasangan Z-M) - Incumbent
Sejak awal pasangan ini diprediksi sebagai pasangan terkuat yang masih mendominasi pergerakan politik Pilkada KSB. Selain ditinjau dari keberhasilan menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan KSB serta program-program visioner yang dilahirkan keduanya diprediksi mendapat dukungan kuat dari rakyat KSB, bahkan simpati akan sosok kharismatik seorang Zulkifli Muhadli yang baru saja mendapat cumlude doktornya di Malang Jawa Timur ini tetap kembali memilih Mala Rahman sebagai pendampingnya bertarung kembali sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat untuk periode kedua. Dalam analisa ini, Zulkifli Muhadli menentukan Mala Rahman sebagai pendampingnya lebih didasari oleh kedekatan emosional serta kerjasama dalam mengawal pemerintahan KSB selama keduanya memimpin KSB satu periode.
Kyai Zul sapaan akrab di masyarakat mempunyai strategi politik cukup handal, sejak awal Kyai menyatakan diri akan maju melalui calon independen, isu yang dihembuskan majunya melalui calon independen tersebut, dibuktikan dengan terkumpulnya ribuan KTP masyarakat dalam mendukung pencalonan kembali pada Pilkada KSB mendatang. Strategi melalui opini majunya melalui calon independen cukup membuahkan hasil yang baik, sehingga ribuan masyarakat berbondong-bondong memberikan dukungan kepada Kyai. Walaupun partai politik saat itu tidak dan belum secara tegas memberikan dukungan politik kepada Kyai. Jurus jitu Kyai ini, cukup membuat partai politik membuat perhitungan, oleh pertimbangan untuk meloloskan dirinya maju melalui calon independent terbuka sangat lebar. Dengan bermodalkan hasil Pilkada pada tahun 2005 lalu dengan hasil gemilang yang didapatkan oleh pasangan Kyai - Mala Rahman sebesar 31.30% atau sejumlah 16.949 suara dari total jumlah pemilih sah sebanyak 54.159 pemilih pada Pilkada Tahun 2005 lalu adalah modal dasar untuk kembali merebut hati rakyat KSB. Ditopang oleh ide brilian membawa dan membangun KSB selama 5 tahun kepemimpinan kedua pasangan tersebut.
Keinginan Kyai maju melalui jalur independen menjadikan tolak ukur optimisme Kyai untuk menang sehingga menjadi senjata ampuh yang kemudian menggeret partai-partai politik besar memberikan perhitungan matang dalam mencalonkan calon Bupati dan Wakil Bupati KSB ini yang dulunya didukung oleh Partai PBB dan PIB tersebut. Dengan spekulasi itulah kemudian dengan tegas partai–partai politik yang berada di parlemen KSB membidik kembali mengusung Kyai untuk maju sebagai Calon Bupati KSB yang walaupun pada saat itu belum jelas dengan siapa Kyai akan berpasangan. Partai-partai besar seperti Golkar, PDIP, Hanura dan Partai lainya termasuk PKS dan Demokrat saat itu beramai-ramai mengusulkan Kyai sebagai calon Bupati KSB dengan Harapan partai politik tersebut akan mendapatkan keputusan dari Kyai untuk disandingkan bersama usulan dari partai politik masing-masing. Jurus jitu yang diterapkan Kyai melalui opini pencalonanya dari Independen menjadi perdebatan sentral, bukan hanya dikalangan partai politik akan tetapi di masyarakat pun perdebatan tersebut menjadi opini strategis untuk dikupas.
Hebatnya, Kyai bersama tim strategis pemenangan menggiring partai politik yang mengusulkan dirinya maju kembali di Pilkada KSB untuk menyatakan sikap dengan komitmen bersama melalui deklarasi partai-partai politik pengusung Kyai, dan tepatnya setelah momentum hari raya Idul Adha partai politik di KSB seperti Golkar, PDIP, Hanura, PKPB, Patriot, PKPI mendeklarasikan Kyai untuk menjadi calon Bupati KSB pada Pilkada 26 April mendatang melalui slogan tim yang disebut koalisi ADHA, sementara saat itu pun Kyai lagi-lagi masih belum mengumumkan siapa yang akan kembali menjadi pendampingnya walaupun partai politik telah sepakat mengusung Kyai. Deklarasi koalisi ADHA dinilai sebelumnya sebagai bagian dari manuver politik dengan harapan Kyai akan memilih pasangan yang diantaranya akan dipilih dari usungan nama-nama yang sudah masuk kedalam daftar usulan partai politik tersebut. Namun tanpa disadari melalui Istigharah yang panjang serta tanpa dugaan akhirnya Kyai kembali menetapkan Mala Rahman sebagai pendampingya untuk Pilkada KSB serta mempertahankan eksistensi pemerintahan yang dibangun selama keduanya memimpin Bumi Pariri Lema Bariri tersebut.
Adakah kekecewaan dari partai pengusung ketika Kyai menetapkan Mala Rahman? Dalam analisa ini tentu berbagai persepsi muncul dan kekecewaan tersebut pasti lahir dengan berbagai sikap, dan disatu sisi partai politik sebagai pengusung Kyai melalui deklarasi Adha secara otomatis sangat tidak mungkin mencabut dukunganya kembali ketika tidak menetapkan usulan-usulan calonya bersama Kyai yang tentunya akan menjadi imbas politik besar dan memunculkan kesan “memalukan” jika dukungan tersebut kemudian harus ditarik kembali atas sikap politik sang Kyai.
Kondisi ini, berbeda dengan sikap PKS, sejak awal partai yang didirikan oleh Hidayat Nurwahid konsisten mengusung Kyai dengan harapan akan menggandeng Mustakim Pattawari, salah satu kader terbaik PKS sebagai pasangan, hasil musyawarah partai telah ditunjukkan dengan sangat antusias meraih kemengan jika kemudian nantinya Kyai menetapkan Mustakim sebagai pilihan termasuk lembaga-lembaga survey ramai-ramai memprediksi kemenangan jika Mustakim Pattawari disandingkan bersama Kyai.
Namun eksistensi PKS menjadi luntur, serta menarik kembali dukungan tersebut sebagai sikap partai serta memilih jalur politik lain untuk sebuah legitimasi politik PKS di masa yang akan datang.
Begitu pula Partai Demokrat, partai SBY yang sejak awal di beberapa media massa lebih lantang mendukung Kyai akhirnya “main mata” membuat strategi politik yang tidak lain hanya untuk mencari nilai tawar dalam dukungan kepada pasangan calon, yang walaupun akhirnya kembali bersikap “akur” kepada Kyai untuk mendukung di Pilkada KSB 2010.
Beberapa hari terakhir menjelang deklarasi pasangan Z - M tanpa disangka sebelumnya Partai Amanat Nasional (PAN) kembali membuat manuver, yang walaupun PAN masih ragu memberikan sikap politik untuk menetapkan pasangan calon pada saat itu. Dengan pertimbangan bahwa PAN cenderung hati-hati, terbangun cakrawala berfikir rasional membaca peta secara strategis dan melihat kondisi secara konstruktif yang kemudian pilihan PAN jatuh kepada Kyai.
Dukungan kepada pasangan Z - M dari partai politik di KSB cukup memberikan suara signifikan untuk memenangkan pasangan ini. 16 Kursi di parlemen KSB telah dikuasai dengan kekuatan suara hasil Pemilu 2009 (menguasai hampir 65% suara Parlemen Pemilu 2009). Jika mengacu pada hasil Pemilu 2009 perolehan suara dari koalisi partai dan pengusungnya memprediksikan Kyai memperoleh suara signifikan dalam pertarungan politik Pilkada.
Akan tetapi, sejauh mana konsistensi partai politik tersebut memenangkan Kyai dan jaminan apa yang mampu membuat pasangan ini menjadi pemenang di Pilkada nantinya? Akankah perolehan kursi atau suara di Pemilu 2009 tersebut menjadi tolak ukur strategis bagi kemenangan Kyai? Sementara di satu sisi, militansi pemenangan Kyai masih harus efektif mendulang suara yang nantinya akan menjadi tolak ukur dasar pasangan ini menang di Pilkada. Masih lemahnya peran partai, terjadinya perpecahan dukungan kader partai, serta berkurangnya militansi strategis tim sebagaimana sebelumnya saat Kyai bertarung di Pilkada KSB pada tahun 2005 lalu. LANJUTKAN…………
Pasangan Andi Azisi Amin - Dirmawan (Pasangan AMAN)
Sosok Andi Azis bagi masyarakat KSB cukup popular, selain datang dari akademisi, juga sosok yang berfikir visioner membangun KSB. Andi Azisi Amin adalah putra terbaik yang dimiliki oleh Sumbawa Barat. Potensi yang melekat di Andi Azis selain sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Pasca Sarjana Universitas Indonesia Jakarta juga sosok pemimpin yang mempunyai dedikasi tinggi dalam mewujudkan pikiran-pikiran akademisnya.
Berpasangan dengan Dirmawan seorang birokrat asal Kecamatan Seteluk adalah pilihan kedua kalinya Andi Azis setelah Pilkada KSB sebelumnya bersama Muhsin Hamim yang juga Putra Kecamatan Seteluk. Penentuan Dirmawan sebagai pasangan Andi Azis tentu memiliki pertimbangan yang rasional, bukan hanya refresentasi wilayah yang akan diharapkan mendulang suara di Pilkada KSB mendatang, akan tetapi secara fakta bahwa referensi perolehan suara Pilkada sebelumnya di Kecamatan seteluk sebagai bagian yang menjadi modal pilihan kepada Dirmawan sebagai pilihan Andi Azis.
Dengan modal suara Pilkada 2005 yang diraih Andi Azisi sebesar 12.705 atau 23,46 % dari 54.154 suara sah pemilih Pilkada lalu juga sebagai tolak ukur signifikan untuk mewujudkan pemenangan paket yang disebut paket AMAN. Perolahan suara Andi Azis dan Kyai sebagai pemenang Pilkada 2005 lalu hanya berbeda 4.244 suara.
Bermodal kekuatan basis massa di Kecamatan Seteluk, Sekongkang dan Maluk serta potensi pemilih di wilayah Kecamatan Jereweh dan Taliwang, Andi Azisi mendeklarasikan diri berpasangan dengan Dirmawan serta mendapat dukungan dari partai PPP, PKS, PPD, PDP, PKB (9 Kursi Parlemen KSB dari Pemilu 2009) adalah modal yang cukup untuk Andi Azisi – Dirmawan (paket AMAN) memenangkan Pilkada 2010 ini.
Sebelumnya, Andi Azis sempat terganjal dengan adanya dukungan partai politik di saat awal tim pemenangan Andi Azis menggelar konferensi pers. PDP misalnya, partai banteng bertulang ini menjadi kontroversi besar saat memberikan dukungan kepada Andi Azisi, awalnya dukungan tersebut hanya dimunculkan oleh 1 kursi di parlemen melalui dukungan Fud Syaifuddin yang kemudian melahirkan reaksi keras pengurus terhadap pernyataan sikap kader partai yang menjadi anggota DPRD KSB dari partai tersebut. Spekulasi awal dukungan Fud Syaifuddin adalah konflik internal yang berimbas kepada solidaritas PDP.
Berbagai upaya pengurusnya untuk membantah dukungan tersebut adalah salah satu “gertakan” yang membuat PDP disibukkan mencari identitas dan legalitasnya demi sebuah dukungan. Kader dan pengurus PDP bersitegang sama-sama mengklaim legalitas tersebut, sehingga pertemuan untuk menjatuhkan peran kader PDP di DPRD KSB itu menjadi pembicaraan hangat untuk sebuah opini. Namun upaya kader tersebut terganjal ketika keputusan Dewan Pimpinan Kolektif Pusat PDP secara sah menetapkan pengurus baru serta memberikan dukungan kembali kepada Andi Azisi sekaligus membantah dan melemahkan efeuria yang dibangun oleh kader PDP lainnya.
Disharmonisasi di tubuh PDP tentu akan berimbas kepada konsolidasi pemenangan Andi Azisi – Dirmawan. Betapa tidak, kader yang selama ini mendulang suara untuk PDP sehingga melahirkan calonya di DPRD KSB harus walk out dari PDP dengan menyatakan dukungan kepada Pasangan Z - M.
Kondisi ini juga terjadi di PKS, Mustakim Pattawari selaku kader terbaik yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD KSB memilih “resiko” maju berpasangan dengan Busrah Hasan yang juga salah satu calon Bupati KSB. Langkah dan gerak Mustakim Pattawari memilih berpasangan dengan Busrah Hasan membuat PKS disibukkan oleh disharmonisasi politiknya, Ketua DPD PKS KSB Abidin Nasar SP pun angkat bicara siap menggeret Mustakim kepada sanksi-sanksi partai, termasuk upaya PAW dan recall Mustakim dari PKS atas sikapnya yang tidak manut terhadap keputusan partai untuk mendukung Andi Azis - Dirmawan.
Disisi lain, keputusan Mustakim memilih maju sebagai calon wakil bupati bersama Busrah Hasan mau tidak mau akan memberikan pengaruh cukup signifikan atas solidaritas dan konsolidasi partai untuk memenangkan Andi Azis tersebut, terutama perolehan suara PKS menjadi menurun jika tolak ukurnya dari hasil Pemilu 2009.
PKS sebagai partai dakwah yang militansinya sangat berpengaruh membentuk polarisasi politik di KSB akan tentunya memunculkan kelemahan secara fakta, karena Mustakim Pattawari juga tidak akan tinggal diam menggarap basis yang selama ini potensial yang menjadi kekuatannya. Dan disimpulkan bahwa tubuh PKS menjadi lemah walaupun Ketua DPD PKS tersebut secara tegas menyatakan solid mendukung Andi Azis.
Perbedaan lain, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah partai pengusung Andi Azis justru membuat manuver indah, tanpa konflik dan cenderung bermain aman, walaupun tidak ada perpecahan secara signifikan, namun solidaritas kader masih menjadi persoalan internal yang akan juga berpengaruh pada perolehan suara untuk pasangan Andi Azis.
Kondisi-kondisi tersebut adalah bagian dari dinamika peran partai, terbangunnya beberapa poros dukungan adalah suatu nilai yang wajar bagi setiap partai, namun akankah kembali pasangan Andi Azis mampu mengejar perolehan suara serta mengamankan suara di Pilkada sebelumnya? Mampukah sosok Dirmawan sebagai refresentasi wilayah Kecamatan Seteluk dan Poto Tano sebanding dengan kekuatan perolehan suara Muhsin Hamim? Dan apakah pilihan rakyat KSB kepada Andi Azis mampu mengukir sejarah untuk kedua kalinya di Pilkada ini?
Perpecahan dukungan dari PKS dan PDP adalah permasalah signifikan di pemenangan Andi Azis, peran Mustakim Pattawari untuk “menggembosi” suara-suara PKS tentu berpengaruh pada perolehan suara utuh PKS sebagaimana hasil perolehan pada Pemilu 2009 lalu. Begitu pula PDP, lunturnya solidaritas kader khususnya Taliwang yang mendulang suara untuk Fud Syaifuddin adalah bagian dari persoalan PDP, hengkangnya Massadi, Jony Syaputra dan Haeruddin sebelumnya Caleg PDP akan mengurangi suara dari PDP itu sendiri. AMANKAN…………………
Pasangan Busrah Hasan dan Mustakim Pattawari (Pasangan RAHMAT)
H. Busrah Hasan adalah sosok familiar yang cukup dikenal di Sumbawa Barat, pencalonannya sebagai calon Bupati pada Pilkada 2005 lalu di KSB memberikan kesan positif dalam rangka membangun peran demokrasi, dengan dukungan partai seperti PPP, PDIP dan partai pengusung lainnya pada Pilkada 2005 tersebut Busrah Hasan menjadikan kekuatan baru yang pantas diperhitungkan.
Mantan Kepala Dinas Perikanan Prov NTB ini mempunyai akses dan jaringan birokrasi serta politik yang handal, low profil dan bersahaja. Di balik prestasi birokrasi yang dimilikinya, Busrah Hasan mempunyai kemampuan politik cukup baik, memiliki akses kedaerahan yang kuat, sehingga pilihan kepada Busrah Hasan adalah patut diperhitungkan.
Berpasangan dengan Mustakim Pattawari LM (kader PKS dan Wakil Ketua DPRD KSB) adalah pilihan RAHMAT bagi kedua pasangan ini. Mustakim Patawari yang dikenal kritis, muda dan visioner adalah pilihan terbaik bagi Busrah. Selain ditopang oleh perolehan suara pada Pilkada lalu, berharap militansi seorang Mustakim Patawari terutama basis massanya saat di Pemilu 2009 dari perolehan suara PKS di Brang Rea, Seteluk, Tano dan Brang Ene menjadikan kedua pasangan ini menggiring diri mendaftar ke KPUD KSB, pendaftaran keduanya ke KPUD KSB pun masih menjadi pertanyaan besar terutama partai-partai yang mengusung keduanya maju sebagai pasangan terakhir yang mendaftarkan diri. Namun Partai-partai pengusung tersebut seperti PPRN, GERINDRA, PABARNAS, PIB, PNI Marhaen, PDK, Republikan, Pelopor, PBR, PKNU, PNBK, dan Partai Merdeka masih harus menunggu kepastian KPUD untuk diverifikasi sebagai persyaratan kelayakan mengusung paket Rahmat. Sebab, beberapa partai di atas sebelumnya telah tergabung dalam Koalisi Januari mendukung pasangan Z – M, termasuk deklarasi dan pendaftaran di KPUD Sumbawa Barat.
Artinya, perpecahan dukungan akan menjadi satu permasalahan awal pasangan RAHMAT yang harus dipikirkan dan suatu persyaratan yang tidak dimungkinkan secara aturan jika koalisi partai di atas harus memberikan dua dukungan pasangan calon yang kini menjadi PR bagi KPUD untuk disikapi terutama legalitas pengurus partai yang telah lebih awal menandatangani dukungan kepada pasangan Z - M.
Partai pengusung pasangan RAHMAT memiliki kekuatan suara sebesar 8.880 dari hasil perolehan suara Pemilu 2009 atau sebesar 23% suara sah Pemilu. Jika benar secara legalitas dan dukungan dari partai-partai tersebut mengarah kepada “nasib” politik Busrah Hasan maka akan menjadi suatu kekuatan baru atau kekuatan alternatif atau boleh disebut “Kuda Hitam” dari dua pasangan sebelumnya yang telah mendeklarasikan diri maju di Pilkada KSB. Namun jika hasil verifikasi untuk memenuhi suara minimal 15% perolehan suara hasil Pemilu 2009, maka secara otomatis pasangan RAHMAT harus gigit jari merealisasikan diri sebagai calon yang akan memenangkan Pilkada KSB 2010.
Busrah Hasan patut diperhitungkan, dengan perolehan modal suara yang diperoleh pada Pilkada 2005 lalu sebesar 11.192 (20,67 %) berbeda tipis dengan perolehan suara Andi Azisi Amin pada saat itu menjadi referensi untuk maju memenangkan Pilkada KSB 26 April mendatang.
Jika Busrah Hasan diuntungkan oleh hasil verifikasi tersebut, maka pertarungan politik Pilkada KSB menunjukkan reaksi menarik. Namun pasangan ini harus bekerja ekstra untuk membangun kekuatan baru yang bukan hanya bersandar pada perolehan suara hasil Pemilu 2009, jika diolah dari data kwantitatifnya, Busrah Hasan harus mampu meraih setidaknya 12% suara kembali dari perolehan suara hasil Pemilu partai pengusung, sebab penentuan pemenang akan ditentukan dengan suara minimal 30% + 1 untuk kemenangan Paket RAHMAT jika Pilkada ini harus berakhir satu putaran.
Dari ketiga pasangan baik Z - M, paket Aman dan paket Rahmat, tentunya dituntut harus mendulang suara rakyat sebanyak mungkin, karena memenuhi suara 30% adalah angka yang tidak mudah dalam menarik simpati rakyat KSB. Selain itu, ketiga pasangan ini pula harus mampu mengelola perolehan suara jika Pemilu Pilkada 2005 lalu menjadi tolak ukurnya. Sebanyak lebih dari 12 ribu suara yang kemudian harus mampu direbut yang dulunya diraup oleh pasangan Hatta Taliwang - A.Razak pada Pilkada 2005 sebesar 5,42% atau sebesar 10.371 suara, serta 19,15% suara atau sebesar 10.371 suara yang diperoleh pasangan Salim Ahmad - HM Syafei pada Pilkada lalu di KSB dengan total perolehan keduanya mencapai angka 24,57% termasuk suara penambahan penduduk KSB dari hasil Pemilu 2009 yang lalu.****
Oleh : Benny Tanaya
(LSM Aspirasi & Koord. Jaringan Nasional HAM NTB)
| Komentar |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|























Na ya ajak to bola bae runtung ano na...
baru tau gw ada situs kyk gini...bany...
Indonesia sebagai negara Hukum, maka ...
Inilah akibatnya kalau kita hanya se...