|
Feature Qurais Harapan Warga terhadap Pasangan Nur Latif-Qurais, Tegas pada Kontraktor Nakal dan Amanah Suasana meriah dan khidmat mewarnai pelataran Paruga Nae, kemarin. Perhelatan pelantikan Wali dan Wakil Wali Kota Bima, Drs HM Nur A Latif dan H Qurais H Abidin, dihadiri ribuan orang. Buncahan harapan menguap agar mereka berbuat yang terbaik untuk masyartakat, khususnya ekonomi lemah. Apa saja harapan mereka? Berikut rangkuman HM Nasir Ali.
Mereka menilai pasangan itu memiliki daya tarik untuk memimpin Kota Bima lima tahun ke depan. Namun, diharapkan harus cermat memilih bawahan yang memegang jabatan penting, seperti Bagian Keuangan dan kebijakan publik lainnya. Menurut warga Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba, H Abubakar, seorang bawahan itu memang harus taat kepada atasan, tetapi dalam hal-hal yang positif. “Demikian sebaliknya, pemimpin tak boleh lemah dan harus bertindak cepat jika bawahannya nyeleweng, seperti korupsi, kolusi, dan lainnya,” ujar H Abubakar, usai pelantikan di Paruga Nae, Kamis (24/7). Pasangan Noliqu juga diharapkan lebih memajukan Kota Bima lagi dari capaian yang ada saat ini. Apalagi, masyarakat sudah memahami kemampuan Nur A Latif pada periode sebelumnya. “Hari ini dan yang akan datang harus lebih baik dari yang kemarin,” tuturnya. Hal senada dikemukakan warga Bonto Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota, H Sarbini. Segala sesuatu yang dirintis harus dilanjutkan lagi. Bahkan, kalau perlu masyarakat nelayan di Kelurahan Kolo diperhatikan agar derajat kehidupannya lebih baik lagi. Tak hanya itu, derajat kesehatan juga perlu ditangani serius seperti perhatian Wali Kota terhadap warga di lingkungan Kota Bima, karena kondisi daerah pinggiran rentan dengan masalah kesehatan setiap saat. Lain halnya dengan warga Oi Foo, Husni dan Lela Mase, M Yasin. Mereka berharap jalan yang dirintis Wali Kota yang lalu bisa dilanjutkan hingga pengaspalannya. “Kalau sarana jalan sudah bagus kegiatan ekonomi rakyat akan lancar. Banyak hasil pertanian yang dijual di pasar adalah suplai dari kelurahan terpencil,” kata Husni yang diamini rekan dari Lela Mase. Demikian juga dengan pembangunan masjid dan mushala masih banyak yang belum tuntas pembangunannya hingga kini. Oleh karena itu, mereka berharap banyak kepada Wali dan Wakil Wali Kota bisa melanjutkan pembangunan itu. Hanya saja, kata Suhadah, kekuatan ekonomi yang berbasis kerakyatan juga harus ditangani secara arif dan kreatif, seperti pemasukkan zakat di Kota Bima harus dieksploitasi dengan aturan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Dana umat itu wajib hukumnya untuk ditarik oleh seorang pemimpin. Seperti pada zaman Khulafaur Rasyidin. “Ini harus dilakukan agar orang yang punya harta tidak dilaknat oleh Allah,” ujar warga Kelurahan Penatoi ini. Warga juga mengingatkan agar pasangan terpilih tegas terhadap pelaksana proyek yang nakal. Seperti beberapa proyek di Kelurahan Lampe yang tidak tuntas sesuai harapan masyarakat. “Nanti saya akan tunjukkan kepada Wali Kota Bima saat peresmian proyek di Lampe Sabtu mendatang,” ujar warga Lampe, H Abd Gani. Lain halnya dengan guru yang tergabung dalam kelompok ibu TK Ya Bunayya Kota Bima, Nurhaidah. Berbagai percepatan pembangunan fisik dinilainya luar biasa. Mereka harus amanah dan menjadi contoh teladan bagi rakyatnya, baik tutur kata maupun perbuatannya. “Kita menunggu gebrakan pembangunan selanjutnya,” katanya. Camat Mpunda, Lalu Sukarsana, SIP, berharap pemimpin baru ini menjaga kontinuitas pembangunan yang dirintis sebelumnya dan dilanjutkan untuk kemaslahatan masyarakat. “Apapun yang dilakukan pemerintah yang bersifat positif bagi masyarakat, kita dukung,” ujar Sukarsana, Rabu lalu, di Mpunda. Harapan yang sama juga diutarakan Lurah Rabangodu Selatan, HM Din, ST. Ke depan, katanya, pemerintah harus lebih menggenjot pembangunan yang telah dilakukan sebelumnya. Selama ini, sudah banyak pembangunan, kelanjutan tersebut yang sedang ditunggu masyarakat. Apapun langkah yang diambil Pemkot, akan didukung masyarakat. “Kami rasa, apa yang dilakukan pemerintah, bagaimana yang terbaik bagi masyarakat,” ujarnya menambahkan. Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Kantor Camat Rasane Timur, M Yasin H Ahmad, menuturkan, saat ini masyarakat membutuhkan dukungan kesejahteraan secara lahir dan batin dari pemerintah. “Kami berharap, ke depan pemerintah selalu komitmen dan keadaan ekonomi memperhatikan masyarakat,” tandasnya. Bagaimana harapan masyarakat awam terhadap pemimpin baru itu? Sebagian besar dari mereka berharap agar pemerintah juga menggenjot pembagunan nonfisik, berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Kami harap Pak Wali, selalu ingat kami-kami masyarakat kecil,” harap Usman, pengojek di pangkalan kompleks pasar Bima. Riko, warga Sarae, meminta agar ke depan pemerintah lebih banyak memperhatikan nasib masyarakat kecil. Kalau dilihat dari segi pembangunan fisik di Bima, cukup maju. “Tetapi, pendapat orang banyak bisa dibilang Kota Bima tampak mentereng dari luar, tapi bobrok di dalam,” kata warga Sarae ini yang juga mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Bima. Katanya, masih banyak orang miskin yang tersentuh pembangunan, sementara Pemkot Bima lebih banyak mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat. Lalu, apa kata Wali Kota Bima, Drs HM Nur A Latif? Kepada sejumlah wartawan usai pelantikan, mengisyaratkan ke depan akan memperbaiki sistem birokrasi, salah satunya penegakkan disiplin aparatur. Selain itu, sasaran utama selain pembangunan fisik, yakni pengembangan ekonomi mikro masyarakat, peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan yang berkualitas. “Salah satunya melalui program pemerintah mewujudkan Kota Pendidikan,” katanya di homestay Mutmainnah, Kamis. Pembangunan kemitraan bersama dengan pihak swasta untuk mencapai hasil pembangunan yang maksimal. “Yang akan kita lakukan rekonsiliasi internal, rekonsiliasi SDM, keuangan maupun pendapatan,” ujar Nur Latif. Sebelumnya, berdasarkan data statistik Kota Bima merujuk pada angka hasil pembangunan di Kota Bima, angka Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bima tahun 2007 lalu hanya mengalami pertumbuhan 6 persen dengan leading sector jasa, dimana masih didominasi pemerintah dalam hal pengelolaannya. Jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima BLT untuk Kota Bima sebanyak 9 ribu lebih. Atau jumlah Kepala Keluarga (KK) miskin di Kota Bima masih relatif tinggi. (*) Feature Lantik Ketika Nur Latif Dipercaya Nakodai Biduk Pemerintahan lagi Wali dan Wakil Wali Kota Bima, HM Nur A Latif dan H Qurais telah resmi dilantik oleh Gubernur NTB, Drs H Lalu Serinata, Kamis (24/7) di Paruga Nae. Lantas apa yang akan dilakukan oleh pasangan tersebut selama lima tahun ke depan? Berikut catatan Sofiyan Asy’ari. WAJAH berseri, menghias wajah HM Nur A Latif dan H Qurais. Dengan seragam putih-putih, melangkah tegap memasuki arena sidang paripurna istimewa DPRD Kota Bima yang dihelat di Paruga Nae. Sekitar tujuh ribu pasang mata menyaksikan prosesi penting itu.. Dibawah Al-Quran, mereka mengucapkan sumpah. Siap mengemban amanah yang diletakkan dipundaknya oleh rakyat. Keduanya adalah hasil pilihan langsung rakyat Kota Bima dalam Pemilu 19 Juni lalu. “Jangan Biarkan Matahari Berlalu Tanpa Makna” masih menjadi slogan Nur Latif. Kini tinggal menunggu putaran waktu, untuk melihat pembuktian. Apakah benar, selama lima tahun ke depan bisa lebih baik dari sebelumnya. Semua tentunya berharap, kondisi yang lebih baik lagi dalam memajukan Kota Bima dan menyejahterakan masyarakat. Meski Nur Latif kini didampingi oleh H Qurais, namun bukan berarti menutup mata atas jasa H Umar H Abubakar, BA yang selama lim tahun menemaninya mendayung biduk pemerintahan. Bahkan, dengan terbuka, menyatakan kebanggaannya pada sosok Aba Uma. “Umar itu orang yang punya prinsip dan karakter, pemikirannya diharapkan tetap membantu dalam pembangunan Kota Bima,” kata Nur Latif di Mutmainnah Home Stay, Kamis (24/7). Jika Umar adalah sosok birokrat, maka kini pendamping barunya berlatang belakang berbeda. Qurais dikenal sebagai sosok pengusaha dan dibesarkan dalam lingkungan dunia enterpreneurship. Roda waktu berputar dan tuntutan jaman berubah. Kini, pola pemerintahan, tidak hanya berfikir bagaimana mengelola anggaran yang ada. Tetapi, juga berinovasi bagaimana mencari keuntungan, tentunya menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dia berharap, Qurais yang memiliki pergaulan luas dalam dunia usaha, memiliki teman yang dapat membantu masalah pengangguran di Kota Bima. Tentu saja dengan penciptaan lapangan kerja baru, meskipun berskala kecil. Terpenting bagaimana menyerap tenaga kerja yang ada. Apalagi, diperkirakan pada 2010 mendatang, pemerintahan daerah sudah menganut otonomi murni. Itu berarti, pemerintah daerah itu sendiri yang akan membiaya dirinya. Termasuk menggaji pegawai di daerah. Ini menjadi tantangan tersendiri, bagaimana berfikir keras dengan memanfaatkan potensi yang ada. Lima tahun ke depan, dimulai saat dirinya dilantik, telah tersusun agenda yang akan dilaksanakannya. Bila lima tahun lalu, deretan programnya meliputi pendidikan, kesehatan, infrastruktur serta keuangan, untuk periode lima tahun ke depan, susunan prioritas pembangunan diubahnya. Yakni, pendidikan, ekonomi mikro, infrastruktur, kesehatan, keagamaan, ketahanan pangan, kebersihan serta keindahan kota. “Lima tahun lalu, saya dikatakan terlalu lunak, penyabar, dan lemah lembut. Maka periode kedua ini, saya harus belajar banyak. Sendainya tahun lalu bisa efektif, maka hasilnya tidak akan seperti ini,” ungkapnya. Untuk itu, dalam 100 hari pertama yang akan dilakukannya adalah rekonstruksi internal dan eksternal. Langkah awal dengan mengisi struktur baru sesuai dengan PP 41 dan saat ini sedang digodok. “Ada beberapa perubahan, tetapi tidak drastis,” ujarnya. Selanjutnya, kata dia, adalah rekonsiliasasi sumber daya manusia (SDM). Hal yang menjadi titik tekan adalah masalah keuangan, terutama administrasinya. Inilah, yang disadarinya menjadi titik lemahnya dalam hal administrasi yang berujung pada adanya temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Saya tak mau lagi kecolongan, jangan sampai ada lagi temuan BPK, akibat kesalahan. Dana harus digunakan seefektif mungkin,” janjinya. Pengawasan akan diperketatnya. Termasuk merapikan sistem perencanaan. Seluruh masukan nantinya akan didesain oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bima Masalah infrastruktur pun, akan dituntaskannya. Seperti perkantoran sejumlah kelurahan dan kecamatan yang belum rampung. Termasuk pembangunan masjid Agung Al Muwahiddin yang hingga kini terkatung-katung. Untuk rekonsiliasasi eksternal akan dilakukannya dengan legislatif, termasuk partai-partai yang mendukungnya dalam pencalonan. Partai-partai lain termasuk yang baru juga akan pendekatan. “Saya juga akan pendekatan dengan Gubernur NTB terpilih,” katanya. Saat menyampaikan tentang program yang akan dilakukan lima tahun ke drpan, Nur latif mengaku ditantang untuk lebih tegas lagi, termasuk terhadap bawahannya. Apalagi, telah menyadari titik kelemahan, terutama dalam hal administrasi keuangan. Sorotan juga disampaikannya kepada wartawan. Ketika dalam faktanya, ada pejabat yang baru eselon dua, tapi sudah memiliki menunjukkan perubahan dalam kekayaan. Dia ditantang, untuk melakukan perubahan besar. Atas tantangan itu, Nur Latif pun siap dan menerima segala masukan. Pelantikan telah berlalu. Kini rakyat menunggu pembuktian janji! Agar tak hanya sekadar kata-kata kosong tanpa kekayaan makna. Selamat mengemban amanah. (*) |
student in brawijaya university Written by
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
on 2008-09-04 09:27:32 semoga dengan pemerintahan yang berjalan selama dua periode berturut2 menampakkan perubahan2 yang signifikan, mendahulukan pembangunan masyarakatnya daripada pembangunan fisik. fungsi dan pembangunan sarana serta prasarana fisik tak akan berarti banyak jika sumber daya masyarakat tak dibimbing untuk mengetahui apa yang akan di bangun.. penekanannya disini terletak pada aspek sosialisasi yang mengutamakan transparansi pada masyarakat.. makasih | |