Mantan Wakil Ketua DPD Golkar Sumbawa Dukung Pasangan Zul - Ichsan

 

Sumbawa Besar, Sumbawanews.com.- Meskipun Pilgub NTB masih dalam tahap pendaftaran, namun dukung mendukung mulai terlihat meskipun secara tegas partai pengusung mengharamkan kadernya mendukung pasangan lain selain yang diusung oleh partai bersangkutan.
 
Edi Chandra dari Sumbawanews.com, mewawancara secara khusus ibu Hj Fatima Alwi mantan wakil ketua DPD  Golkar Sumbawa, Minggu (10/2) pukul 20.00 wita di rumahnya di Bala Balong yang secara tegas mendukung pasangan Dr.KH. Zulkiflimuhadli - Prof Dr Muhammad Icksan padahal pasangan ini bukan jagaon yang diusung oleh Partai Golkar.
 
Berikut isi wawancara Sumbawanews.com :
 
Pertanyaan : Bagaimana ibu haja menegenal sosok figur Kiayai Zul dan dimana  mengenalnya? 
 
Hj Fatimah : Saya mengenal kiayai Zul pada saat  pembentukan  komite Sumbawa Barat sekitar 9 tahun lalu
Pertanyaan : Bagaimana ibu melihat Figur ketokohan khyai Zul di mata ibu ?
 
Hj Fatimah : Beliau orang yang bersahaja dan sangat sederhana
Pertanyaan : Mengapa ibu mendukung khyai zul dan bukan mendukung Amin, karena kita ketahui bersama bahwa ibu hj adalah wakil ketua DPD golkar sumbawa?
 
Hj Fatimah : Beliau orang pertama putra Sumbawa yang mau mencalonkan diri sebagai gubernur NTB dan beliau punya keberanian untuk maju ,dan baru pertama kali orang Sumbawa maju sebagai gubernur NTB, saya salut dengan kyai dan bangga. Saya  merasa bangga bagi diri sendiri melihat keberhasilan beliau selama beliau menjabat   dalam 7 tahun sebagai bupati KSB bahwa  pembangunan sangat signifikan, banyak  hal - hal  yang sangat  menonjol baik infra struktur maupun pemberdayaan masyarakatnya.
Dan saya pernah singgah di rumah salah satu seorang sopir di dinas kabupaten Sumbawa Barat, ternyata kehidupannya  jauh lebih baik dan sangat jauh berbeda, sehingga saya  berpikir bahwa  tingkat kesejahteraan masyarakat di KSB  sangat bagus, sangat jauh berbeda dengan kehidupan  kepala bagian di Sumbawa yang  belum mampu tingkat ekonominya, apalagi  masjid begitu megah, saat itu  saya datang sebagai anggota LATS.
 
Pertanyaan: Mengapa ibu haja memilih kiayai dan bukan memilih Amin sebagai dukungan?
 
Hj Fatimah : Bahwa figur kiayai sukar untuk dicari lagi, karena saya tahu bahwa dari kecil imet terhadap  orang taliwang sangat negatif dan beda dengan saat ini. Saat ini imej itu terbantahkan dan hal itu tdk ada, sedangkan Amin hanya sebagai wakil secara otomatis tidak bisa mengambil kebijakan karena sebagai penumpang sehingga saya bertekat mendukung kiayai walaupun berat bagi bagi partai golkar.
 
Pertanyaan : Atas dasar apa ibu haja mendukung khyai dan apakah ibu haja  udah komit?
 
Hj Fatimah : Saya sudah tekat bulat  dan saya melihat kiayai mempunyai  keberhasilan memimpin KSB dan beliau orang yang sangat bersahaja serta  mau menerima telepon dari siapa  saja dan selalu  menampung aspirasi masyarakat, selalu ada jalan keluar dan memberi solusi, beliau sebagai pemimpin sejati masa depan.
 
Pertanyaan : Apa kelebihan kiayai di mata ibu haja ?
 
Hj Fatimah : bahwa beliau lebih  perhatian terhadap rakyat kecil termasuk hal hal kecil tak bisa dilupakan oleh masyarakat dari apa yang dilakukannya oleh kiayai, karena seorang pemimpin yang baik  adalah pemimpin  amirulmukminin dan ini ada pada khyai,mengapa saya memilih beliau karena pintar dan bijaksana , bijaksana sebagai pemimpin adalah dan selalu  berbuat hal hal yang kecil.
 
Pertanyaan : kalau kita berbicara politik bagaimana pandangan ibu haja soal politik kiayai saat ini?
 
Hj Fatimah : Sebagai politisi beliau bukan politisi karbitan, karena dalam menentukan sikap dan bicara bukan memakai bahasa bersayap selalu komitmen, itu yang susah dicari figur seperti kiayai
 
Pertanyaan : Rermasuk dalam penyatuan etnis, karena kita tahu NTB saat ini sangat rawan konflik, untuk itu diperlukan figur yang bisa mengadopsi semua kepentingan maupun kesukuan.
 
Hj Fatimah : Stigma kesukuan harus dirubah, bukan kwantitas diperlukan melainkan kwalitas, harus ada yang bisa mengubahnya dan yang bisa mengubah adalah kiyai dan yakin beliau mampu menyatukan presepsi perbedaan kesukuan dan etnis.
 
Pertanyaan : Kita ketahui bersama bahwa sejak tahun 2007 sampai sekarang ini ibu haja sebagai pengurus inti DPD partai Folkar  Sumbawa yaitu sebagai wakil ketua, sedangkan golkar sendiri mencalonkan Amin sebagai pendamping TGB priode 2013-2018, apakah ibu haja tidak terbebani atas sikap yang diambil mendukung kiayai?
 
Hj Fatimah : Sebelum saya memutuskan mendukung kiayai, bahwa 2 bulan lalu saya telah mengajukan pengunduran diri saya sebagai pengurus DPD Golkar sumbawa yang posisi saya sebagai wakil ketua, alasan pengunduran diri saya disebabkan bahwa sebelumnya yaitu saat halal bi halal di hotel Tambora Sumbawa bersama kiayai, saya melihat sosok kiayai mempunyai nilai kharismatik sebagai figur pemimpin yang amanah, untuk itu agar tidak menjadi beban bagi diri saya maupun keluarga saya, dengan ikhlas saya mengajukan pengunduran diri dari wakil ketua partai Golkar Sumbawa dan nyatakan sikap dengan ikhlas mendukung khyai zul.
 
Pertanyaan: Bagaimana ibu melihat stigma pola pikir masyarakat terutama warga pulau lombok yang begitu kental dengan fanatisme seorang Tuan Guru, dan tidak melihat dari sisi negatifnya ?
 
Hj Fatimah : Stigma pola pikir terkait fanatisme perlu dirubah, saat ini diperlukan sekarang ini kwalitas karena tuan guru merupakan warisan keluarga dan belum tentu apa yang dipilih itu amanah atau tidak, berdasarkan fanatisme sakral tersebut  dan itu merupakan pradigma ficik dan imet itu perlu diluruskan dan bukan karena keturunan warisan.
 
Pertanyaan : Bagaimana ibu haja melihat figur TGB yang saat ini masih menjabat, baik dalam mengambil keputusan ataupun kebijkan?
 
Hj Fatimah : Masalah TGB saya  tidak bgitu kenal, kalau ketemu kenal dan saya melihat biasa- biasa saja tidak ada hal yang luar biasa dan TGB sebagai lelaki cukup lembut. Banyak juga keberhasilan dan belum melihat yang menonjol hanya menoton termasuk dalam mengambil kebijakan kurang mengena.
 
Pertanyaan : Pemimpin kriteria model bagaimana yang ibu haja harapkan kedepan untuk pimpin NTB?
 
Hj Fatimah :  Pemimpin harus  dinamis, berakhlaq, berwawasan, tegas dan ulet dan yang paling penting amanah dan semua itu ada pada DR Zulkifli Muhadli.
 
Pertanyaan : Bagaimana pandangan ibu haja terkait aksi 221 Sumbawa dan siapa yang sanggup meredam masalah tersebut sehingga tidak membias?
 
Hj Fatimah : Menurut pandangan saya, aksi 221 Sumbawa TGB terlalu lamban mengambil langkah dan kebijakan, pemimpin harus tegas, dan yang paling penting penanganan kordinasi semua lini maupun sektor, karena pemimpin tidak tegas dan tidak mampu meminit kasus  maka itulah yang terjadi disumbawa, kita ketahui bersama terhadap warga etnis Bali di semarekat pototano KSB  dan itu telah dilakukan oleh kiayai sehingga warga etnis Bali di semarekat tidak tersentuh sedikitpun oleh ulah aksi 221 dan kiayai yang mempunyai  kharisma dalam hal itu hal itu.
 
Pertanyaan : Sejak kapan ibu haja mengundurkan diri dari partai Golkar?
 
Hj Fatimah : Saya  mengundurkan diri sudah 2 bulan lalu dengan alasan  sudah mempunyai pilihan dukungan agar tidak terbebani, jauh sebelum kiayai deklarasi, saat halal bi halal di tambora sumbawa dan bangga sama khayi karena berani mencalonkan diri sebagai gubernur ntb, saat ini melakukan sosialisasi untuk dukung kiayai secara utuh dan ikhlas.
 
(Edi Chandra)
 
 
Kategori: