Komnas HAM Temukan Kejangalan Paska Bentrok di Lambu

Kabupaten Bima, Sumbawanews.Com.- Dua orang anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ridhal Saleh dan Sriyana menemukan adanya pelanggaran HAM saat pembubaran paksa yang dilakukan oknum aparat kepolisian pada massa Forum Rakyat Anti Tambang (FRAT) yang memblokir Pelabuhan Sape, temuan itu setelah pihaknya melakukan investigasi pasca bentrok di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.
 
Terkait kasus penembakan pada warga juga merupakan kejangalan, sehingga kata Ridhal pihaknya sedang mendalamani kasus itu, apalagi penembakana pada warga diluar areal Pelabuhan Sape. Selain itu, Sabtu (24/12) tidak ada perlawanan yang dilakukan pendemo, malah koordinator lapanagan (koorlap) mengarahkan massanya untuk mundur. “Terhadap temuan dan kejangalan itu, Ridhal mengaku sudah menemui Kapolda NTB Brigjen. Arif Wachyunandi dan Kapolres Bima Kota  AKBP. Kumbul KS, S,Ik, SH. Sekaligus meminta untuk menindak tegas oknum personilnya yang bertindak diluar prosedur,” ujarnya pada sejumlah wartawan Rabu (28/12) usai melakukan kunjungan di Lambu.
 
 Menurut Ridhal warga yang tertembak itu, berada diluar Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan radius sekitar 700 Meter dari pelabuhan. Selain itu, dalam pertemuan dengan warga, sejumlah tokoh di Lambu meminta pada perwakilan Komnas HAM tersebut, agar 47 warga Lambu yang ditahan itu, untuk di adili secara hukum sesuai perbuatannya, bukan di adili atas dasar balas dendam.
 
Menindaklanjuti permintaan warga, Ridhal telah mengarahkan pada Kapolda NTB agar warga yang ditahan ditangguhkan masa penahanannya. Pada wartawan juga, Ridhal menyampaikan bahwa yang meninggal di TKP hanya dua orang yakni Mahfud alias Syaiful (17) dan Arif Rahman (19), sedangkan satu orang lainnya yakni Safrudin meninggal pasca bentrok Minggu (25/12). “Untuk kasus kematian Safrudin pihaknya juga sedang mendalaminya. Pasalnya, dari laporan diterimanya korban meninggal akibat shock sepulang dari TKP,” katanya. 
 
Saat dua orang Komnas HAM menggunjungi Polres Bima Kota, persisnya diruang Reserse setempat. AKBP. Kumbul KS, S,Ik, SH menunjukkan sejumlah Barang Bukti (BB) yang dipergunakan massa pendemo saat bentrok. Seperti, parang, panah, tombak, batu, bambu runcing, beberapa botol bensin, dan sejenis senjata tajam lainnya. 
Usai melihat BB di Polres Bima Kota, Ridhal dan Sriyana menggunjunggi warga Lambu yang ditahan polisi saat bentrok, dan 37 warga itu kini di titip di Rutan Bima. Junaidin warga Desa Rato salah satu dari yang ditahan itu, menyampaikan uneg-unegnya pada Komnas HAM, dimana setelah mereka ditangkap, melaporkan dipukuli dan dianiaya dalam sel tahanan, ungkap Junaidin.
 
Sementara itu, Adi Supriadi melaporkan hal berbeda, dimana dirinya diduga tersangka pembakaran Kantor Camat Lambu 2010 lalu. Menyampaikan penangkapannya, tanpa surat penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian Polres Bima Kota, sedangkan dirinya sudah dikeluarkan surat rekomendasi dari Komnas HAM untuk dibebaskan dari tahanan tersebut, ujarnya. 
 
Paska Bentrok, Sejumlah Fasilitas Negara Dirusak Massa, Sedikitnya 12 unit kantor milik pemerintah dan 53 unit rumah warga Lambu, dirusak massa pasca insiden penembakan di Pelabuhan Sape. Fasilitas negara tersebut diantaranya, Kantor Camat Lambu, Kantor Desa, Unit Pelayanan Tehnis Dinas (UPTD) Peternaian, UPTD Dikpora, Polsek Lambu dan Kantor Urusan Agama (KUA).
 
Persisnya peristiwa perusakan serentak itu, dilakukan pasca dikuburkan dua warga meninggal pasca bentrok yakni Mahfud dan Arif Rahman Minggu (25/12) malam. Rumah warga sasaran amuk massa yaitu, Ir. Suryadin anggota DPRD Kabupaten Bima, rumah Abdurahman sekcam Kecamatan Lambu, beberapa rumah yang dirusak itu, karena disinyalir sebagai pendukung dan pro terhadap masuknya tambang di Lambu. (Khairul) 
 
 
 
Kategori: 

Comments

sudah saatnya pihak kepolisian tidak dipersenjatai dalam mengahadapi pendemo