Pasalnya, jembatan tanjung menangis merupakan jembatan yang dibutuhkan oleh para petani jagung, masyarakat serta juga para investor yang bergerak dalam bidang tambak udang.
Dengan putusnya jembatan tersebut, para petani mengaku sangat kesulitan dalam hal transportasi, selain itu petani harus berani membayar mahal harga air minum serta untuk kebutuhan hidup lainnya.
“dengan terputusnya jembatan tersebut, air minum biasanya 1 jurigen Rp.1000, kini menjadi Rp.5000/ jurigen,” kata salah seorang petani Arif
Tak hanya itu, untuk transportasi para petani juga rela mengeluarkan uang Rp 2000 untuk sekali jalan melewati tanah pekarangan orang lain.
“Bayangkan, bila sehari tiga kali kita melintas berarti kita harus mengeluarkan uang Rp.6 ribu,” katanya.Selain itu, beberapa aktifitas warga juga terhenti akibat putusnya jembatan tersebut.
Masyarakat juga berharap agar pemerintah segera merespon masalah tersebut.
“paling banter untuk membiayai jembatan tersebut tidak sampai Rp.10 juta, kenapa hingga saat ini belum juga dibangun?” Tanya warga lainnya. (loek)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|























Indonesia sebagai negara Hukum, maka ...
Inilah akibatnya kalau kita hanya se...
fikiran yg hebat mmbicarakan ide........
kami harap para penegak hukum konsist...