Bima, Sumbawanews.com.-
Kematian Arisman (11 tahun) bocah asal Desa Waduruka Kecamatan Langgudu, dinilai pihak RSUD Bima tidak semata karena kekurangan stok oksigen. Akan tetapi, kondisi sakit tetanus korban yang sudah kritis. Hal itu diungkapkan Direktris RSUD Bima, dr Hj Tini Wijanari, kepada wartawan di RSUD Bima, Senin (8/9).
Namun, dia mengakui, saat ini RSUD Bima kekurangan stok oksigen. Informasi yang diperolehnya, masih dalam perjalanan, karena terhambat arus lalu lintas di Jawa.
Sebenarnya, kata Tini, pihak RSUD Bima sudah meminta agar korban tidak dipulangkan dan siap mencarikan oksigen lagi. Namun, pihak keluarga tetap ngotot membawanya pulang. Ternyata, di perjalanan korban meninggal dunia. “Bukan hanya persoalan tidak mendapat pasokan oksigen, tetapi kondisi korban sudah sangat kritis,” katanya.
Dijelaskannya, penyakit tetanus jika tidak segera ditangani, maka akan mengancam jiwa seseorang. Penanganan pasien dengan penyakit itu, memang membutuhkan oksigen yang banyak. Bahkan, dalam sehari bisa menghabiskan hingga tiga tabung.
Dikatakannya, RSUD Bima tidak bisa memastikan berapa stok oksigen yang harus tersedia dalam sebulan. Pasalnya, semua bergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. Ada saat dimana oksigen dibutuhkan lebih dari biasanya. “Ketika musim penyakit asma seperti saat ini, maka kebutuhan oksigen meningkat,” katanya.
Diakuinya, kasus ini adalah kali pertama terjadi persediaan oksigen menipis. Apalagi, pesananan masih dalam perjalanan. Belum bisa dipastikan, kapan akan sampai di Bima. “Berapapun yang didatangkan oleh agen, akan kami beli semuanya,” katanya.
Disebutkannya, ada dua jenis oksigen, yakni tabung dan konsentrat. Untuk penanganan darurat, menggunakan oksigen tabung. Namun, bila kondisinya sudah membaik, menggunakan konsentrat.
Disarankannya, bagi warga yang mengalami luka, apalagi oleh benda berkarat sebaiknya cepat diobati. Kerap kali hal seperti ini diabaikan oleh masyarakat. Ketika kondisi sudah sangat parah, barulah dibawa ke RSUD Bima. Salah satu sumber tetanus yang paling besar adalah kotoran kuda.
Seperti dilansir Bimeks kemarin, orang tua Arisman, Abbas dan Nur Fainah, pun putus asa dan memilih membawa anaknya pulang, Sabtu (6/9) lalu. Ternyata, dalam perjalanan pulang, siswa kelas enam SD itu menghembuskan nafas terakhirnya. (BE.16)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





















nanta pak mas'ud keras dunia na pe.ba...
.......... TUNTAS bErSIh kOOrUpSSiiii...
Ini yang benar,, apa yang menjadi ket...
Pak Umar Hasan berani berdasarkan buk...