Arisman (11 tahun) bocah asal Desa Waduruka Kecamatan Langgudu, meregang nyawa. Diduga karena tidak mendapat perawatan maksimal di RSUD Bima. Oksigen yang dibutuhkan agar bisa bertahan dari sakitnya, tidak tersedia di RSUD Bima.
Orang tuanya, Abbas dan Nur Fainah, pun putus asa dan memilih membawa anaknya pulang, Sabtu (6/9) lalu. Ternyata, dalam perjalanan pulang, siswa kelas enam SD itu menghambuskan nafas terakhirnya.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Bima, Thamrin Fatah, heran mengapa RSUD Bima, bisa sampai kehabisan stok oksigen. Padahal, amat urgen untuk pertolongan bagi pasien yang kritis.
Thamrin mengaku ikut mengantar bocah itu ke RSUD Bima, Kamis (4/9) lalu. Saat itu, langsung mendapat pertolongan dengan oksigen. Namun, tidak lama ternyata oksigennya habis.
Saat itu juga, katanya, bertemu dengan Direktris RSUD Bima, menanyakan mengapa sampai stok oksigen habis. Mestinya, RSUD Bima tidak boleh kehabisan stok. “Saat itu saya diberi penjelasan bahwa oksigennya masih dipesan. Bagaimana mungkin RSUD Bima bisa kehabisan stok,” kata duta PKB ini di DPRD Kabupaten Bima, Sabtu (6/9).
Setelah tidak mendapat oksigen, kondisi korban kian parah. Akhirnya, Sabtu (6/9) lalu pihak keluarga membawa anaknya pulang. Alasannya, daripada menderita di rumah sakit, namun tidak mendapat penanganan maksimal, lebih baik dibawa pulang. “Rupanya saat perjalanan menuju Waduruka, sang bocah meninggal dunia,” katanya.
Dia menyesalkan, mengapa pihak RSUD Bima lalai dalam menyediakan stok oksigen. Jika sudah tahu persediaan kurang, seharusnya sudah memesannya lagi. Sebelumnya juga, pernah membawa pasien kecelakaan lalu lintas. Saat dibawa ke RSUD Bima, korban membutuhkan pertolongan dengan bantuan oksigen. Pihak rumah sakit mengatakan tidak ada, alias habis. “Setelah mereka tahu saya anggota dewan, barulah diberikan,” katanya.
Untuk itu, katanya, ke depan pemerintah harus mengalokasikan dana yang besar bagi kesehatan. Pasalnya, kesehatan menjadi hal yang vital, karena menyangkut hidup orang lain.
Semua kebutuhan di RSUD Bima yang dibutuhkan oleh pasien termasuk oksigen harus tetap tersedia. Sehingga semua mendapat pertolongan dan pengobatan yang baik. Dirinya tidak ingin pengalaman yang dialaminya akan menimpa orang lain.
Direktris RSUD Bima, dr Hj Tini Wijanari, yang dihubungi via handphone (HP) tidak berhasil dikonfirmasi. Meski nada dering masuk, namun tak juga diangkat. Dihubungi lagi pada kesempatan berbeda, HP-nya tidak aktif. (BE.16)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|























Na ya ajak to bola bae runtung ano na...
baru tau gw ada situs kyk gini...bany...
Indonesia sebagai negara Hukum, maka ...
Inilah akibatnya kalau kita hanya se...