Pemerintah gencar menerapkan program pendidikan gratis, namun tampaknya belum sepenuhnya disambut positif oleh masyarakat. Sebagian siswa malah memilih keluar (drop out), padahal biaya pendidikan sudah ditanggung oleh pemerintah.
Seperti yang terjadi di SMPN 3 Kota Bima. Setiap tahun siswa, malah memilih keluar sekolah alias DO. Tahun 2009, ada 28 siswa SMPN 3 Kota Bima yang memilih DO.
Sebagian besar siswa yang memilih DO dari kelurahan terpencil di Kota Bima, meliputi Kelurahan Kumbe, Oi Fo’o, dan Oi Mbo. Masyarakat masih terikat budaya lama dan tidak memahami arti pendidikan bagi kelanjutan hidup mereka. Padahal, saat ini pemerintah sudah menerapkan wajib pendidikan 9 tahun.
Kepala SMPN 3 Kota Bima, Basuki, SPd, mengatakan, sejumlah upaya menekan angka DO terus dilakukan, salah satunya menawarkan pendidikan gratis kepada siswa. Namun, hal itu tak disambut positif oleh masyarakat. Setiap tahun, jumlah siswa yang memilih keluar malah bertambah.
“Kita sudah berusaha mencari dan menjemput mereka hingga ke gunung. Padahal, mereka tidak memiliki kesulitan biaya, karena sekarang ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS, Red), tapi mengubah pandangan masyarakat itu sulit,” katanya.
Terakhir, diakuinya, ada delapan siswa yang memilih keluar menjelang Ujian Nasional (UN), beberapa waktu lalu. Padahal, nama mereka sudah tecantum sebagai peserta. Dari 159 siswa yang terdaftar, hanya 151 siswa yang ikut UN. “Kami juga bingung bagaimana mengubah kebiasaan buruk masyarakat, mengajak ngomong agar melanjutkan pendidikannya sampai tuntas. Tapi, sepertinya mereka malah memilih mengajak anaknya kerja di gunung,” katanya. (BE.17)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|























emhhh ITB
pendidikan Agama,Moral dari kelurga s...
Na penok babakn aman maluk sak! Ka...
Sosialisasi pasangan ZUL - MALA di ke...
Pencermatan kami yang hadir sekitar 3...