Bima, Sumbawanews.com.-
Buntut perubahan cuaca dan tingginya gelombang laut yang terjadi beberapa waktu terakhir ini, menyebabkan para sejumlah nelayan ketakutan. Mereka tak berani melaut karena takut berisiko.
Seperti yang dilakukan sejumlah nelayan di Desa Bajo Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima dan sebagian nelayan di Kelurahan Tanjung Kota Bima. Sejak gelombang meninggi, sejumlah nelayan mengakut takut melaut.
Hamid, nelayan Desa Bajo mengaku, terpaksa menunda berlaut sejak seminggu terakhir. Kalau pun melaut, sekarang tidak sampai melewati wilayah Kolo, karena gelombang saat ini tinggi.
Dia mengaku, saat cuaca normal menggunakan kapal penangkar ikan, setiap minggunya mampu berlayar hingga ke luar wilayah Tambora. Namun, namun hal itu tak lagi dilakukannya dalam beberapa minggu teakhir akibat cuaca buruk. “Walau pun kami sudah terbiasa dengan gelombang, kami tidak ingin takabur ambil risiko, lebih baik istrahat dulu, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya Minggu (11/1) di Bajo.
Ketakutan berlayar juga dirasakan Biren, nelayan lainnya. Dia dan sejumlah nelayan lain juga mengaku terpaksa menunda berlaut hingga ke perairan Tambora, karena takut gelombang dan cuaca buruk. “Kalau laut lepas sangat berbeda dengan perairan di sekitar teluk, saat cuaca normal saja keadaannya berbahaya, apalagi saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan cuaca atau gelombang tinggi sudah biasa terjadi jika memasuki musim angin arah barat atau sekitar bulan Desember. Pada umumnya, nelayan memilih menunda melaut.
Kekuatiran juga dirasakan sejumlah nelayan di Kelurahan Tanjung Kota Bima. Sejak perubahan cuaca, mereka mengaku terpaksa menunda melaut hingga ke Kolo. “Kalau melaut, paling banter tak jauh dari dermaga Bima yang kami lakukan,” ujar Amir, nelayan Tanjung.
Akibat lain dari perubahan cuaca ini, menyebabkan kekuatiran bagi sejumlah pengguna jasa perahu ketinting (boat). Sisi lainnya, sejak beberapa waktu terakhir, aktifitas bongkar-muat di pelabuhan Bima juga tampak sepi. “Kalau kita lihat gelombang sangat besar, kami lebih baik melalui jalur darat,” ujar Ratna, warga yang kerap menggunakan boat.
Sebelumnya, Kasubsi Pengamanan dan Penyelamatan (Gamat) Administrasi Pelabuhan Bima, H Abubakar mengungkapkan, sesuai data yang diterima dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Selaparang Mataram, ketinggian gelombang di perairan Bima pekan lalu mencapai dua meter dengan kecepatan gelombang 20 km/jam. Fenomena alam itu diperkirakan akan terjadi hingga bulan Februari. “Memang memasuki musim angin barat, gelombang laut meningkat,” katanya.
Pada sejumlah daerah di Indonesia, akibat cuaca buruk, nelayan urung melaut karena tak ingin berisiko. Selain itu, aktifitas pelabuhan pun sepi karena sebagian pengguna pelabuhan memilih berhati-hati. (BE.17)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|























Indonesia sebagai negara Hukum, maka ...
Inilah akibatnya kalau kita hanya se...
fikiran yg hebat mmbicarakan ide........
kami harap para penegak hukum konsist...