Kasus kekerasan di sekolah kembali terjadi. Kali ini menimpa Ikram, siswa kelas 1B SMPN 9 Kota Bima, Rabu (10/6). Pemukulan itu terjadi karena Ikram dianggap mengganggu saat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Akibatnya, tangan kiri pelajar itu pun lebam.
Ibu korban, Zubaidah menuturkan, berdasarkan pengakuan Ikram, tanpa alasan yang jelas korban tiba-tiba dipukul oleh guru bahasa Inggris, Fahrizal, SPd, menggunakan penggaris saat mengikuti KBM, Rabu lalu. “Tidak sepantasnya, guru mempraktikkan model-model kekerasan. Anak kami manusia, kami saja tidak pernah memukulnya,” protes Zubaidah kepada wartawan, Jumat (12/6), di Kodo.
Diakui warga Kodo ini, dari pengakuan anaknya itu, beberapa menit setelah proses KBM dimulai, sempat berdiri di dalam kelas karena ada rekannya yang meminta headset telepon genggam (HP) dan dilihat oleh Fahrizal. “Tapi tiba-tiba saja anak saya dipukul dengan penggaris hingga patah setelah dia selesai belajar, itu kan bukan caranya mendidik,” sesalnya.
Merasa tak terima dengan perlakuan itu, Zubaidah mengaku, langsung menemui Kepala SMPN 9 Kota Bima. Namun, bukan tanggungjawab atau permintaan maaf yang diterimanya saat itu. Pihak sekolah memintanya tidak mempersoalkan hal itu lagi dan memberikan sejumlah uang.
“Kami tersinggung sekali dengan cara sekolah. Kami tidak menjual anak untuk dipukul, hingga hari ini guru itu tidak pernah meminta maaf kepada kami,” katanya.
Kepala SMPN 9 Kota Bima, Muhammad Sidik, tidak membantah sempat memberikan sejumlah uang kepada korban untuk mengobati lukanya. Menurutnya, kekerasan yang menimpa korban sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Kita sudah minta maaf, apa yang dilakukan Pak Fahrizal, mungkin karena pengaruh usia yang masih muda, jadi emosinya masih labil,” katanya. (BE.17)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

















perang ue
Iskandar, ternyata anda telah jujur d...
saking kelewat jujurnya saksi JM, akh...
Kalian tim JM ketahuan banget pemboho...
..emang tau pasti ya semuax itu..ntar...