HOME UTAMA DAERAH | NASIONAL | INTERNASIONAL | EDITORIAL | OPINI | PENDIDIKAN | AGAMA | UNIK | TECHO | FOTO | SITUSKU CERITA RAKYAT | BUDAYA SEJARAH | WISATA | JOKE PUISI | SASTRA  | MOTIVASI | BEASISWA

Cuaca Ekstrim dan Bibit Langka Hantui Pertanian di Kota Mataram

Mataram, SumbawaNews.com – Cuaca buruk dan ekstrim dan kelangkaan bibit padi mengantui kondisi pertanian di Kota Mataram saat ini. Sejumlah areal pertanian siap panen di empat kecamatan, buktinya, roboh akibat terpaan angin kencang dengan kecepatan 40 km/jam dalam lima hari terakhir ini.

“Saya meninjau di beberapa lokasi di empat kecamatan, sebagian besar yang roboh itu mau dipanen,” kata H Bondan Wisnujati, Kepala Badan Penyuluh Pertanian, Perikanan, Perkebunan dan Kehutanan Kota Mataram.

Kendati tidak sampai puso atau gagal panen, Bondan khawatir cuaca buruk dan ekstrim ini berdampak pada sejumlah areal pertanian yang akan panen dan baru memasuki masa penanaman. Sedangkan areal pertanian di Kota Mataram sendiri dalam tiga tahun terakhir berkurang sebanyak 25 hektare. Ini di luar areal pertanian dari sejumlah daerah di Lobar yang masuk dalam wilayah Kota Mataram. Kini, kota bermottokan maju religius dan berbudaya ini hanya memiliki areal pertanian seluas 2.175 hektare.

Di wilayah Ampenan sendiri, selain dihantui kondisi cuaca, para petani setempat—para peserta Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT)—kini mengalami kendala bibit. Untuk pengadaan bibit ini, Bondan mengungkapkan, para petani mendapatkannya dari Dinas Pertanian Provinsi NTB. Sedangkan hal itu masih dalam proses tender. “Kita masih menunggu juga ini. Sementara mereka (petani, red) harus segera melaksanakan (penanaman) karena sudah lebih dulu panen,” ujar mantan Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Mataram ini.

Namun begitu, tutur Bondan, Dinas Pertanian NTB memberikan solusi para petani diijinkan membeli sendiri benih yang berlabel untuk saat ini dan akan diganti pada musim tanam berikutnya dalam bentuk benih. Luas lahan pertanian yang sudah panen dan akan segera memasuki masa tanam ini, diungkapkannya seluas kurang dari 100 hektare dengan kebutuhan benih atau bibit sebanyak 15 kg/hektare.

Di Kota Mataram sendiri, target produksi pertanian pada tahun 2012 ini sebanyak 5,59 ton/ha dengan areal seluas 2.175 meningkat dari tahun 2011 lalu yang sebanyak 5,56 ton/ha dengan areal seluas 2.165 ha.

Kendati begitu, Bondan yakin Kota Mataram dapat mencapai target kontribusi produksi pertanian hingga tahun 2014 sebanyak 25 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan prduksi se NTB sebanyak 2 juta ton, meski lahan pertanian terus berkurang setiap tahun. “Kita menyiasatinya dengan pemilihan bibit, irigasi dan pupuk,” imbuhnya. [Idham Halik]

Kategori: