Camat Alas Barat: Bukit Gedong Bukan Merupakan Tapal Batas Gontar-Lekong

Sumbawa, SumbawaNews.Com.- Seperti diberitakan sebelumnya disalah satu media lokal Sumbawa, bahwa Bukit (olat) Gedong yang berada di Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa merupakan titik tapal batas antara desa Gontar dan desa Lekong. Keberadaan Bukit gedong yang luasnya 4085 M2  bukan merupakan asset Pemerintahan daerah  ternyata milik salah seorang pengusaha bahkan sudah bersertifikat. Didalam pemberitaan tersebut  dikatakan aktifitas pertambangan batu gunung di area bukit Gedong dikatakan menyalahi proaedural, karena akan menghilangkan titik batas antara kedua desa tersebut.

Camat Alas Barat M Saleh Amin S.Sos Kepada SumbawaNews.Com, Jum’at (26/06) menyatakan bahwa secara visualisasi koordinat tapal batas diantara kedua desa tersebut tidak ada, "cuma acuannya dapat dilakukan dengan buatan manusia ataupun batas alam. Secara yuridis formal bahwa Olat Gedong belum dikatakan sebagai titik batas, karena status keberadaannya belum jelas,“ ungkap M Saleh.

Menyangkut adanya aktifitas pertambangan batu gunung di area bukit Gedong, pihaknya masih mendalami status kepemilikan bukit Gedong, “cuma secara prosedural setiap adanya aktifitas pertambangan/ galian C seharusnya memiliki ijin yang dikeluarkan oleh KPPT kabupaten,“ jelasnya.

Dari penulusuran Wartawan SumbawaNews.com kepada pengusaha pertambangan batu gunung di Bukit Gedong; Gusdianto mengatakan bahwa keberadaan olat Gedong bukan merupakan sebagai titik batas, karena bukit gedong telah menjadi hak milik dan sudah bersertifikat dengan nomor 364 dengan luas 4085 M2.

"Bukit gedong bukan aset pemerintah Sumbawa, karena telah dilakukan pembelian kepada pemilik pertama dengan Akte Jual Beli nomor 24/2010 melalui PPAT Kecamatan Alas Barat hingga terbitlah sertifikat tersebut an Gusdianto,“ jelas Gusdianto alias Tiyong panggilan akrabnya.

Menurutnya bahwa bukit gedong merupakan hak milik pribadi, secara otomatis pihaknya sengaja melakukan penggalian guna melakukan pemerataan untuk dijadikan bangunan dan tempat usaha, secara ekonomis dengan dilakukan penggalian batu gunung untuk pemerataan ada sekita 20 tenaga kerja yang bekerja dilokasi tersebut dengan upah diatas Rp 100.000/hari, sehingga sangat membantu ekonomi para pekerja.

Sedangkan clauser yang ada di area Bukit gedong sebagai alat penggiling batu untuk dijadikan Split sebagai bahan material bangunan maupun jalan, Sehingga siapa saja boleh melakukan penggilingan batu kali dengan Clauser miliknya. "Keberadaan clauser tersebut  sangat membantu ekonomi para pekerja maupun proyek jalan Negara yang disuplay dari clauser bukit gedong," jelasnya.

Menurutnya untuk diketahui keberadaan Clauser diarea bukit Gedong udah berjalan hampir 3 tahun lebih tanpa menganggu aktifitas warga, yang perlu diketahui adalah dari pihak KPPT, Pol PP bahkan dari Komisi II DPRD Sumbawa telaha datang survey ke Bukit Gedong terkait aktifitas pertambangan batu gunung maupun keberadaan Clauser, namun tidak ada yang mempermasalahkan.

Hidayat Puakasang aktivis LSM Kuota ( Koalisi Untuk Transparansi Anggaran ), menyesalkan tulisan Wartawan lokal di salah satu media lokal terkait bukit Gedong, “Sebetulnya dalam menulis sebuah pemberitaan seharusnya harus wartawan tersebut memahami aturan dan duduk persoalannya termasuk konfirmasi nara sumber secara jelas sehingga ada cek and balance, agar ada perimbangan berita agar enak dibaca,“ katanya kepada Sumbawanews.com, Jum’at (26/06). (Edi Chandra)

 

Kategori: