| EKSKLUSIVITAS ATHEISME DALAM SUDUT PANDANG ISLAM |
|
|
|
| Ditulis Oleh Junaidi | ||||||
| Sabtu, 09 Agustus 2008 15:31 | ||||||
|
”Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.". (Q.S. Al-Ikhlas 1-4). Jika dilakukan pengkajian kritis, paham pemikiran yang kemudian menjadi kepercayaan ini, lahir disebabkan filsafat agama yang tidak mampu memenuhi kebutuhan zaman. Alhasil, maka muncullah para pemikir yang menggagas revolusi telogi radikal, seperti; Ludwig Feurbach, William Hamilton, Wolwich, Dietrich Bonhoefer, Thomas Altizer, Karl Barth, Lotte Pelz, Gabriel Vahanian, dan beberapa tokoh lainnya. Sehingga Harvey Cox menggelari mereka dengan gelar death of God theologians. (Lih. Harvey Cox, “Why Christianity Must Be Secularized”, dalam The Great Ideas Today, 1967, Hal. 9-10). Dalam hal ini yang dianggap paling bertanggung jawab adalah Ludwig Feurbach (1804-1872 M), karena itu dia disebut “bapak gereja atheisme”. Pemikirannya yang menyatakan bahwa teologi harus menjadi antropologi, bukan sebagai ajaran mengenai Tuhan, telah merombak tatanan keagamaan sosial secara pyramidal. Baginya Tuhan adalah “Homo homini Deus est”, (manusia adalah Tuhan untuk semua). Lebih lanjutnya dia mengemukakan teori proyeksi dan alienasi. Dalam teori ini dia berpendapat; “manusia tidak diciptakan Tuhan, melainkan Tuhan diciptakan manusia”. Dalam perspektifnya manusia menciptakan Tuhan ketika mereka terhimpit pada suasana resah, sehingga mereka (manusia) membutuhkan tempat bersandar. Proses inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan “kemanakah manusia meletakkan mimpinya?”, sehingga manusia meletakkan mimpinya dalm bentuk Tuhan. Teori yang diungkapkan Feurbach ini telah memberi pengaruh pada para teolog maupun sosiolog berikutnya, seperti; Karl Marx, F. Nietzsche, S. Freud, Sartre, K. Barth, Martin Buber, dan lainnya. Karl Marx (1818-1883 M) sendiri dalam teori alienasi religius (belajar dari Feurbach) mengatakan bahwa agama adalah alienasi yang berdasarkan proyeksi. Dalam hal ini K. Marx melengkapi teori Feurbach yang hanya mempusatkan kajiannya pada pertanyaan ‘bagaimana proses manusia menciptakan Tuhan?”, akan tetapi Marx telah melangkap lebih jauh dari pada Feurbach, dengan menerangkan “mengapanya”. Baginya manusia melarikan diri dalam mimpi-mimpi agama, hal itu disebabkan penderitaanya yang ditimbulkan oleh struktur sosial-ekonomis. Sehingga dia berpendapat kalau manusia ingin mengatasi alienasi social-ekonomi maka manusia harus membunuh alienasi religius. Dinamika ateisme merupakan titik balik dari dimulainya zaman modern. Teologi modern adalah sebuah mainstream pemikiran paradigmatik manusia modern yang menjadi tegaknya sejarah peradaban modern, atas nama teologi deisme dan agnotisisme yang menjadi dasar dari pada mainstream modernisme tersebut. Teologi ini lahir bersamaan dengan zaman renaissance sebagai antitesa dari era scholastic dengan seperangkat teologi klasiknya yang membelenggu. Tujuan teologi ini adalah membebaskan manusia dari nilai dogmatika agama yang memenjarakan kemerdekaan berpikir dan kreatifitas manusia dalam merespon dunianya. Kenyataan inilah yang mengantarkan manusia menyingkirkan Tuhan dari percaturan kehidupan, kendatipan penganut deisme masih mempercayai adanya Tuhan, tetapi berbeda dengan penganut agnotisisme yang menganggap kemampuan rasionalitas manusia sulit diajak berkompromi tentang adanya Realitas yang Terakhir, sehingga dengan serta merta Tuhan dimatikan. Sebenarnya, akar timbulnya ateisme adalah pemaksaan manusia modern untuk menampakkan semua realitas yang tidak nampak untuk menjadi nampak, oleh sebab itu ateisme lahir dari pemaksaan yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga zaman modern ini bisa disebut sebagai zaman ilmiah jahiliyyah, yang selalu melakukan pembangkangan pada hal-hal yang muthlak dan permanent dengan selalu berusaha mencoba merasionalkan segala sesuatu. Menurut hemat saya, karena ketidak mampuan itulah mereka melakukan pembunuhan terhadap hal-hal yang tak mampu mereka rasionalkan, sampai-sampai agama diasingkan. Maka ontology modernisme sama sekali tidak menyisakan sedikitpun unsur ke-Tuhanan, atau unsur kebenaran metafisik didalamnya. Bahkan Ffiedrich Nietzsche (1844-1900 M) dalam bukunya “Die Frohliche Wissenschaft”, menceritakan tentang suatu peristiwa yang paling penting dizaman ini, yaitu kematian Tuhan (Tod von gott). Menurutnya, semakin berkurangnya rasa percaya manusia akan Tuhan, maka jalan menuju energinya makin terbuka. Konsep “Tuhan” dalam pandangannya merupakan musuh terbesar bagi konsep “eksistensi”. Sedang para penghulu modernisme lainnya sepakat dengan jargon “Deus otiosus” (Tuhan telah pensiun), ini adalah sepintas gambaran tentang serpihan teologi deisme dan agnotisisme sebagai teologi yang berpengaruh pada ateisme. Sebab itu, Islam sebagai agama berpaham monoteisme muthlak-permanen, memandang ateisme sebagai suatu corak pemikiran yang abstrak dalam setiap konsepnya. Karena paham ini tidak mempunyai tujuan hidup jangka panjang yang lebih menitik beratkan pada pemenuhuan kebutuhan rohani manusia. Sehingga kemungkinan terjadinya dikotomi antara nalar manusia yang serba terbatas dengan alam, menjadikan paham ini hanya bisa berkembang dalam kehidupan sosial duniawi yang tak terlepas dari ruang dan waktu yang sifatnya akan habis ditelan kehidupan. Maka bisa dipastikan bahwa materi dijadikan Tuhan baru bagi kelompok ini, materi dianggap tuhan yang mereka rasa dapat memenuhi cita-cita manusia dalam rangka kebutuhan sosial ekonominya. Selain dari pada itu ideology bentuk ini, tidak memiliki system yang mengantarkan mereka pada kehidupan abadi (akhirat), oleh karena itu tidak dapat dipungkuri jika penganut paham ini tidak akan pernah punya tujuan hidup yang menuju pada kebahagian hakiki, karena mereka memandang kehidupan setelah mati itu mustahil ada. Meninjau dari hal tersebut akan lahir sebuah pengertian tentang tidak adanya konsep atau ajaran tentang dosa dan pahala dalam paham ini. Maka sudah barang tentu jika penganut paham ini akan kehilangan jati diri (kodrat) manusianya, yaitu moral. Dianalisa dari hal tersebut, akan menumbuhkan benih-benih pergesekan sosial yang kompleks, sehingga tidak akan pernah ada perkawinan etika, moral, dan kearifan dalam hubungan antara sesama manusia didunia. Karena mereka tidak mensentralkan sesuatu pada yang muthlak dan tak akan pernah habis (Tuhan), tetapi mereka mempusatkan segala sesuatunya pada sebuah bentuk benda kasar, yang sifatnya bagaikan candu. Sebab benda kasar (materi) tersebut hanya sebagai pemuas dahaga semu yang bersifat tidak muthlak (akan habis/tidak abadi), jadi sangat wajar jika saya menyebut materi itu candu yang diperebutkan oleh berbagai golongan manusia. Karena dalam pandangan saya, sesuatu yang bersifat dapat memenuhi dahaga manusia untuk sesaat, dan proses pemenuhan tersebut dilalui dengan pencarian, yang setelah berhasil mendapatkannya, ternyata sesuatu itu tidak abadi (bisa habis) serta terikat dalam ruang dan waktu, maka sesuatu tersebut adalah candu. Berbeda halnya dengan agama, sebab agama mensentralkan cita-citanya pada sesuatu yang Kekal Abadi, tidak terikat dengan ruang dan waktu, serta mempunyai ajaran mengenai dosa dan pahala. Sehingga manusia berlomba-lomba untuk mencapai mimpinya (kebahagiaan abadi: surga). Walau jika mimpi itu hanya sebuah dongeng, setidaknya agama beberapa langkah lebih maju daripada ateisme, karena memandang sisi-sisi berikut: 1. konsep pahala dan dosa, yang mengantarkan pola hidup manusia lebih bermoral. 2. konsep surga dan neraka, yang memberi inspirasi pada manusia untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, sehingga tidak akan terjadi kecenderungan-kecenderungan yang pasif dalam proses bersosialisasi (harmonisasi social). 3. konsep teosentrisme pada sesuatu yang Ghaib, sehingga mengalirkan keikhlasan yang bertujuan melatih jiwa manusia agar dapat lebih mengoptimalkan potensi kodratinya. 4. konsep eksaktologis, yang memberi pemahaman pada manusia bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah sebagai sarana untuk menabung yang akan diambil di akhirat kelak, sehingga ketika manusia mengalami kegagalan dalam merealisasikan citi-cita duniawinya, dia tidak terlalu merasakan keputus asa-an. Berbeda halnya dengan manusia yang beranggapan; kehidupan akhirat itu tidak ada, karena tidak mempercayai adanya pengadilan setelah mati, maka ketika dia mengalami kegagalan dalam meraih cita-citanya, dia menganggap hidupnya sudah habis (putus asa), hingga tidak sedikit manusia yang telah berani membunuh dirinya sendiri.
|
||||||
| Pemutakhiran Terakhir ( Minggu, 10 Agustus 2008 10:32 ) | ||||||
| < Sebelumnya |
|---|
Berita Selanjutnya
img> Etika Berdoa (08/08/2008-23:39)
Berlangganan Berita SUMBAWANEWS via email Gratis!! | Ancaman Ganja Selengkapnya |
|
1. Untuk memperkaya perbendaharaan bahasa Sumbawa, silakan masuk ke menu kamus yang ada di ------> Sumbawa ----> kamus atau akses secara langsung melalalui www.kamus.sumbawanews.com dan masukkan kata-kata bahasa Sumbawa yang anda pahami/ketahui.
redaksi sumbawanews |